Harga Minyak Tanah di Nigeria Turun Tipis, Namun Beban Konsumen Masih Berat
Baca dalam 60 detik
- Badan Statistik Nigeria mencatat harga eceran minyak tanah per liter turun 0,17% menjadi N2.971,94 pada Mei 2026, namun secara tahunan masih melonjak 36,62%.
- Disparitas harga antarwilayah sangat tajam: Sokoto menjadi termahal (N3.984,09/liter), sementara Bayelsa paling murah (N2.018,79/liter).
- Harga per galon juga menunjukkan tren tahunan yang meningkat 40,88%, mengindikasikan tekanan inflasi energi yang masih berlanjut bagi rumah tangga Nigeria.

Badan Statistik Nasional Nigeria (NBS) melaporkan harga eceran rata-rata minyak tanah per liter pada Mei 2026 turun tipis 0,17 persen menjadi N2.971,94, dibandingkan N2.976,94 pada bulan sebelumnya. Meski ada sedikit penurunan bulanan, secara tahunan harga masih melonjak 36,62 persen dari N2.175,29 pada Mei 2025, menandakan beban energi rumah tangga belum mereda.
Laporan NBS yang dirilis di Abuja, Rabu (17/6/2026), menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak tanahโbahan bakar utama untuk memasak dan penerangan di banyak rumah tangga Nigeriaโmasih sangat fluktuatif. Penurunan bulanan yang tipis ini belum cukup untuk mengimbangi lonjakan harga yang terjadi dalam setahun terakhir, terutama di tengah tekanan inflasi dan depresiasi mata uang naira.
Analisis berdasarkan negara bagian memperlihatkan disparitas harga yang mencolok. Sokoto mencatat harga tertinggi N3.984,09 per liter, disusul Jigawa N3.824,68 dan Taraba N3.595,64. Sebaliknya, Bayelsa menjadi yang termurah dengan N2.018,79 per liter, diikuti Kogi N2.348,81 dan Ekiti N2.511,31. Perbedaan harga hampir dua kali lipat antara wilayah termahal dan termurah ini mencerminkan tantangan distribusi dan akses energi di Nigeria.
Dari sisi regional, zona North-West mencatat harga eceran rata-rata tertinggi per liter sebesar N3.343,12, disusul North-East N3.004,30. Sementara itu, South-South menjadi yang terendah dengan N2.777,76. Pola serupa juga terlihat pada harga per galon: North-West tertinggi N13.444,05, dan South-East terendah N11.032,42.
Bagi Indonesia, data ini menjadi pengingat bahwa fluktuasi harga energi rumah tangga seperti minyak tanah masih menjadi isu sensitif di negara berkembang. Di Indonesia, meskipun minyak tanah sudah mulai digantikan LPG, sebagian masyarakat di daerah terpencil masih bergantung padanya. Pemerintah Indonesia perlu terus memantau disparitas harga antarwilayah dan memastikan subsidi energi tepat sasaran agar beban masyarakat tidak semakin berat.
Ke depan, tekanan inflasi energi diperkirakan masih akan berlanjut seiring ketidakpastian harga minyak global dan kebijakan subsidi di Nigeria. Pertanyaan besarnya: akankah NBS dan pemerintah Nigeria mampu menstabilkan harga minyak tanah agar tidak semakin memberatkan rumah tangga berpenghasilan rendah?



