Rally Nikkei Tembus 70.000: AI dan Diplomasi AS-Iran Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei menembus level 70.000 untuk pertama kalinya, didorong oleh optimisme investasi AI dan meredanya ketegangan AS-Iran.
- Analis memproyeksikan momentum ini masih berlanjut karena fundamental penggerak AI di Jepang masih solid, meski ada risiko gejolak harga minyak.
- Bagi investor Indonesia, penguatan bursa Tokyo bisa menjadi sinyal positif bagi emiten teknologi yang terafiliasi dengan rantai pasok global.

Indeks Nikkei berhasil menembus level psikologis 70.000 poin untuk pertama kalinya, menandai babak baru dalam reli pasar saham Tokyo yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Pencapaian ini tidak lepas dari dua faktor utama: optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) yang terus membara, serta meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Pada sesi perdagangan 15 Juni, Nikkei melonjak hampir 5 persen sehari setelah pengumuman kesepakatan AS-Iran. Lonjakan ini membawa indeks utama Jepang itu mendekati level 70.000, yang akhirnya berhasil ditembus pada hari berikutnya. Para pelaku pasar menilai bahwa meredanya risiko konflik di Timur Tengah mendorong investor untuk kembali berburu saham-saham teknologi unggulan sekaligus melirik sektor-sektor lain yang sebelumnya tertinggal.
Reli Nikkei yang dimulai sejak pertengahan 2024 sebagian besar dipicu oleh euforia AI. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, laju kenaikan semakin cepat berkat harapan terhadap agen AIโperangkat lunak otonom yang mampu menyelesaikan tugas secara mandiri. Menariknya, waktu yang dibutuhkan Nikkei untuk naik dari 60.000 ke 70.000 hanya dua bulan, jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan dari 50.000 ke 60.000 yang memakan enam bulan, atau dari 40.000 ke 50.000 yang membutuhkan lebih dari 19 bulan.
Masahiro Yamaguchi, kepala riset investasi SMBC Trust Bank, mengungkapkan bahwa fase awal reli Nikkei didukung oleh ekspektasi kebijakan fiskal ekspansif di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi. Namun, gelombang optimisme AI-lah yang kemudian mempercepat laju kenaikan. "Lingkungan kompetitif saat ini membuat perusahaan teknologi sulit bertahan tanpa investasi baru," ujarnya, merujuk pada tingginya permintaan komputasi dari sistem AI generasi terbaru seperti Claude Mythos milik Anthropic.
Shunsuke Kobayashi dari Mizuho Securities menambahkan bahwa pemasok komponen perangkat keras Jepang berada dalam posisi yang menguntungkan. Ia menganalogikan mereka sebagai "penjual beliung dan celana jins" di tengah demam emas AI. "Perusahaan yang memasok komponen untuk pusat data yang dibangun oleh hyperscaler tidak perlu khawatir apakah investasi itu masuk akal secara bisnis. Yang penting, permintaan tetap tinggi," katanya.
Kesepakatan AS-Iran tidak hanya meredakan ketegangan geopolitik, tetapi juga menurunkan tekanan pada rantai pasok minyak. Hal ini membuka peluang bagi investor untuk mulai merotasi dana ke sektor-sektor yang lebih luas, tidak hanya teknologi. Shota Sando, analis ekuitas Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, mencatat bahwa meskipun saat ini masih terjadi perpindahan dana dari saham lain ke saham teknologi, normalisasi harga minyak bisa memicu pembelian di berbagai sektor.
Bagi pasar Indonesia, reli Nikkei memberikan sinyal positif bagi emiten teknologi yang terafiliasi dengan rantai pasok global, terutama di sektor komponen elektronik dan infrastruktur data. Namun, investor perlu mencermati risiko kenaikan harga minyak jika negosiasi AS-Iran menemui hambatan, yang bisa berdampak pada biaya produksi dan inflasi global. Musim laporan keuangan kuartal II yang akan dimulai bulan depan akan menjadi ujian nyata bagi keberlanjutan reli ini.



