Kiper Muda Inggris Khiara Keating Tolak Kontrak Baru Manchester City, Siap Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Khiara Keating, kiper berusia 21 tahun, menolak perpanjangan kontrak dari Manchester City karena ingin mendapatkan menit bermain reguler.
- Keating hanya tampil empat kali di WSL musim lalu dan harus bersaing dengan Ayaka Yamashita untuk posisi utama.
- Kepergiannya bisa memicu perburuan kiper muda berbakat di bursa transfer WSL musim panas ini.

Khiara Keating, kiper muda Inggris yang sempat menjadi andalan di level junior, memilih menolak tawaran kontrak baru dari Manchester City. Keputusan ini membuka peluang hengkangnya sang pemain di bursa transfer musim panas, menyusul minimnya kesempatan tampil sebagai starter di skuad utama The Citizens.
Keating, yang merupakan produk asli akademi City dan seorang penggemar berat klub sejak kecil, hanya mencatatkan empat penampilan di Women's Super League (WSL) musim lalu. Ia harus bersaing ketat dengan kiper asal Jepang, Ayaka Yamashita, untuk memperebutkan posisi nomor satu. Meskipun demikian, ia tetap menjadi bagian dari tim yang sukses meraih gelar WSL perdana dalam satu dekade terakhir dan memenangkan Piala FA Wanita setelah mengalahkan Brighton.
Kontrak Keating saat ini masih berlaku hingga tahun depan, namun dengan adanya ketidakpastian masa depan, sejumlah klub WSL lain dikabarkan telah menunjukkan minat. Kepergiannya bisa menjadi kehilangan besar bagi City, mengingat potensi besarnya sebagai salah satu kiper muda terbaik Inggris. Pada musim 2023/24, di usia 19 tahun, ia menjadi kiper termuda yang memenangkan penghargaan Sarung Tangan Emas WSL setelah mencatatkan sembilan clean sheet.
Di level internasional, Keating sempat dipanggil ke skuad senior Inggris untuk kualifikasi Piala Dunia Wanita melawan Spanyol dan Ukraina pada Juni lalu, namun harus absen karena gegar otak. Ia juga menjadi bagian dari skuad yang menjuarai Euro 2025 dan melakukan debut seniornya di Etihad Stadium pada Oktober dalam laga persahabatan melawan Brasil. Namun, sejak awal 2026, ia kehilangan tempat di tim asuhan Sarina Wiegman dan kini berambisi merebut kembali posisinya menjelang Piala Dunia Wanita tahun depan.
Bagi sepak bola putri Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kompetisi internal yang ketat untuk melahirkan kiper-kiper berkualitas. Minimnya jam terbang di level tertinggi seperti yang dialami Keating bisa menghambat perkembangan pemain muda, sebuah pelajaran berharga bagi klub-klub di Liga 1 Putri yang mulai mengembangkan akademi. Kepergian Keating dari City juga bisa membuka peluang bagi kiper-kiper Asia, termasuk Indonesia, untuk menunjukkan kemampuan di panggung global jika mampu menembus klub-klub Eropa.
Dengan bursa transfer yang masih terbuka, pertanyaan besarnya adalah: apakah Keating akan memilih klub yang menjanjikan menit bermain reguler, atau tetap bertahan di City dengan risiko terus menjadi cadangan? Keputusan ini tidak hanya akan menentukan kariernya, tetapi juga memengaruhi peta persaingan kiper di WSL musim depan.



