Otoritas Pasar Korea Selatan Akui Kegegahan: ETF Leveraged Saham Chip Disetujui Terburu-buru
Baca dalam 60 detik
- Kepala FSS Korea Selatan secara terbuka menyesali persetujuan tergesa-gesa atas ETF leveraged saham Samsung dan SK Hynix yang memicu volatilitas.
- Produk investasi ini mendorong pinjaman ritel ke rekor 60 triliun won, namun efeknya terhadap pelemahan won dinilai terbatas.
- Otoritas kini mempertimbangkan langkah stabilisasi, sementara status pasar berkembang maju (developed market) masih tertunda.

Gubernur Financial Supervisory Service (FSS) Korea Selatan, Lee Chan-jin, secara terbuka mengakui kekeliruan regulator dalam menyetujui peluncuran leveraged exchange-traded funds (ETF) yang terkait dengan saham Samsung Electronics dan SK Hynix. Dalam konferensi pers pada Senin (22/6), Lee menyebut persetujuan itu dilakukan secara terburu-buru dan menjadi bagian dari upaya pemerintah menarik kembali investor ritel dari pasar Amerika Serikat guna menahan pelemahan nilai tukar won.
Leveraged ETF yang mulai diperdagangkan bulan lalu itu dirancang untuk melipatgandakan eksposur terhadap pergerakan saham dua raksasa semikonduktor Korea Selatan. Namun, produk tersebut justru memicu volatilitas pasar yang meningkat. Lee mengungkapkan penyesalan pribadinya, bahkan dengan nada metaforis: "Mungkin saya harus berbaring di lantai untuk menghalanginya." Pernyataan ini menjadi salah satu kritik diri paling keras dari pejabat tinggi regulator keuangan Korea.
Data menunjukkan bahwa ETF tersebut mendorong pinjaman investasi ritel ke rekor 60 triliun won (sekitar US$39 miliar) pada akhir Mei. Namun, Lee menilai dampaknya terhadap pelemahan won masih terbatas. Ia juga menyoroti ketimpangan keuntungan antara pelaku pasar dan investor ritel, seraya menyamakan praktik broker dengan "memberikan kiat di arena perjudian." FSS kini tengah mempertimbangkan langkah stabilisasi, meski Lee enggan merinci lebih lanjut.
Kepala Korea Exchange, Jeong Eun-bo, dalam konferensi terpisah menyatakan pihaknya siap melakukan perbaikan regulasi jika diperlukan. Ia juga mengungkapkan upaya untuk memperkenalkan produk serupa di luar negeri, termasuk di Hong Kong dan London. Langkah ini menunjukkan ambisi Korea Selatan untuk memperluas pengaruh pasar modalnya, meski di tengah gejolak domestik.
Di sisi lain, status Korea Selatan sebagai pasar berkembang maju (developed market) versi MSCI masih belum tercapai. Presiden Lee Jae Myung menjadikan peningkatan status tersebut sebagai agenda utama pemerintahannya. Namun, Lee Chan-jin dari FSS justru menyatakan tidak terburu-buru, mengingat volatilitas tinggi dan masalah struktural yang belum terselesaikan. Ia juga menyebut kekhawatiran domestik akan risiko upgrade mendadak di tengah fluktuasi pasar yang ekstrem.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan pelajaran berharga. Pasar modal Indonesia yang tengah gencar mendorong inovasi produk investasi, termasuk ETF, perlu mewaspadai risiko leveraged products. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat mencontoh langkah FSS yang berani mengakui kesalahan dan segera mengambil tindakan korektif. Selain itu, upaya Korea Selatan membuka pasar valuta asing 24 jam patut dicermati sebagai strategi meningkatkan akses investor asing.
Ke depan, pertanyaan kunci adalah apakah langkah stabilisasi FSS akan cukup meredam volatilitas tanpa menghambat inovasi pasar. Sementara itu, keputusan MSCI terkait status Korea Selatan pekan ini akan menjadi ujian kredibilitas reformasi pasar yang dijalankan pemerintah.



