Thailand Buru Pengusaha China Tersangka Pencucian Uang Lewat Tambang Kripto Ilegal
Baca dalam 60 detik
- Polisi Thailand mengeluarkan surat penangkapan untuk Wang Yicheng, pengusaha China yang diduga terlibat jaringan pencucian uang dari penipuan dan judi online melalui penambangan kripto ilegal.
- Wang disebut menerima jutaan dolar dari dompet kripto yang terkait dengan skema 'pig-butchering', dan sempat menjalin hubungan dengan elit politik dan penegak hukum Thailand.
- Kasus ini menjadi bagian dari penindakan regional terhadap sindikat penipuan yang dikelola warga China, dengan kerugian listrik mencapai 28 juta dolar AS.

Pemerintah Thailand melalui Departemen Investigasi Khusus (DSI) resmi memburu Wang Yicheng, pengusaha asal China yang namanya mencuat dalam laporan Reuters tentang penipuan investasi kripto lintas negara. Wang diduga menjadi bagian dari jaringan yang memanfaatkan penambangan mata uang kripto ilegal untuk mencuci uang hasil penipuan dan perjudian daring.
Juru bicara DSI, Polisi Mayor Woranan Srilam, mengonfirmasi bahwa Wang telah didakwa sejak November tahun lalu dengan tuduhan pencurian dan pelanggaran Undang-Undang Kejahatan Komputer. "Tersangka diduga telah melarikan diri ke luar negeri," ujarnya melalui pesan teks kepada Reuters, seraya menambahkan bahwa otoritas Thailand tengah berkoordinasi dengan mitra internasional untuk melacak keberadaannya.
DSI dalam pernyataan pekan lalu menyebutkan telah menerbitkan surat penangkapan untuk empat warga China dan empat warga Myanmar yang tidak disebutkan namanya. Wang, yang pernah menjabat sebagai pimpinan asosiasi dagang Thailand-China, digambarkan sebagai tokoh kunci dalam kelompok investor China yang diduga menggunakan tambang kripto ilegal untuk menyamarkan aliran dana haram.
Penindakan ini merupakan bagian dari gelombang pemberantasan sindikat penipuan yang sebagian besar dijalankan oleh warga China di Asia Tenggara. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, operasi tersebut sering kali berpusat di kompleks industri yang sebagian pekerjanya adalah korban perdagangan manusia, dan menghasilkan miliaran dolar setiap tahun.
DSI mengungkap jaringan ini saat menyelidiki operasi penambangan kripto ilegal yang menggunakan listrik secara tidak sah. "Kelompok kejahatan transnasional menggunakan penambangan kripto ilegal untuk menghasilkan pendapatan, mencuci uang, dan menggerakkan jaringan kejahatan teknologi," demikian pernyataan DSI. Lembaga penegak hukum AS juga telah mengidentifikasi Wang sebagai tersangka dalam kasus penipuan aset digital.
Laporan Reuters sebelumnya menemukan bahwa dompet kripto atas nama Wang menerima dana dari akun yang oleh TRM Labs dan perusahaan analisis blockchain lainnya dikaitkan dengan skema 'pig-butchering', yaitu penipuan investasi kripto yang mengecoh korban melalui hubungan daring. Salah satu korban, seorang pria California berusia 71 tahun, kehilangan US$2,7 juta setelah dirayu oleh seseorang yang berpura-pura menjadi wanita muda.
Pada saat dana tersebut masuk, Wang menjabat sebagai wakil presiden Asosiasi Perdagangan Ekonomi Thai-Asia, sebuah organisasi yang mempromosikan hubungan bisnis Thailand-China dan memiliki hubungan dengan pejabat di kedua negara, termasuk kepolisian senior Thailand. Setelah laporan Reuters tahun 2023, asosiasi tersebut menyatakan Wang telah keluar dari dewan dan tidak memiliki catatan kriminal.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap aliran dana kripto dan potensi penyalahgunaannya untuk pencucian uang. Mengingat Indonesia juga menjadi salah satu pasar kripto terbesar di Asia Tenggara, koordinasi regional dalam memberantas sindikat penipuan lintas batas menjadi semakin krusial. Pertanyaan yang muncul: sejauh mana regulator Indonesia siap mengantisipasi modus serupa di dalam negeri?



