Bitcoin Terperosok ke US$61.500: Minat Institusional Meredup, Arus Keluar ETF Makin Deras
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin anjlok 2% ke US$61.500 setelah arus keluar ETF spot AS menembus US$113,78 juta pada 24 Juni, menandai penarikan dana institusional selama sepuluh hari berturut-turut.
- Lonjakan pasokan Bitcoin ke bursa—7.600 BTC mengalir ke Binance dalam sepekan—memperkuat tekanan jual dan mengubah level US$60.000 dari support menjadi resistance.
- Data inflasi PCE AS pada 26 Juni menjadi katalis utama berikutnya; hasil yang lebih panas dari perkiraan berpotensi memperburuk sentimen risiko dan memperpanjang koreksi aset kripto.

Bitcoin kembali terpukul. Harga aset kripto dengan kapitalisasi terbesar itu ambles 2% ke US$61.500 pada Kamis (24/6), terseret oleh gelombang aksi jual institusional yang kian deras. Arus keluar dari produk ETF spot berbasis Bitcoin di Amerika Serikat serta perpindahan koin dalam jumlah besar ke bursa menjadi pemicu utama koreksi ini.
Menurut data pasar, dana yang keluar dari ETF spot Bitcoin AS mencapai US$113,78 juta pada 24 Juni. Angka ini merupakan penarikan bersih harian kesepuluh secara beruntun—sinyal paling jelas bahwa selera investor institusional terhadap aset digital sedang meredup. Dalam waktu yang sama, sekitar 7.600 BTC—senilai hampir US$479 juta—mengalir ke Binance, lonjakan pasokan bulanan terbesar sejak Februari lalu. Kombinasi dua tekanan ini membuat level US$60.000 yang sebelumnya dianggap sebagai support kokoh justru berbalik menjadi resistance.
“Pasar saat ini kesulitan menyerap tambahan pasokan yang siap dijual karena tidak ada katalis baru yang mampu menarik minat pembeli,” tulis analis DMarketForces dalam laporannya. Kondisi ini diperparah oleh aksi likuidasi besar-besaran. Lebih dari US$396 juta posisi Bitcoin dilikuidasi dalam 24 jam, dengan US$319 juta di antaranya berasal dari posisi long. Pembersihan leverage ini menandai volatilitas tinggi dan sentimen negatif yang masih membayangi.
Pelemahan Bitcoin terjadi bersamaan dengan koreksi saham teknologi di Wall Street, mencerminkan pola risk-off yang melanda pasar global. Korelasi antara kripto dan aset berisiko lainnya kembali menguat di tengah ketidakpastian suku bunga. Para pelaku pasar kini mengarahkan pandangan ke rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat pada 26 Juni. Jika angka inflasi lebih tinggi dari proyeksi, ekspektasi sikap hawkish Federal Reserve akan semakin kukuh dan berpotensi menekan lebih lanjut aset-aset spekulatif seperti Bitcoin.
Dari sisi teknikal, Bitcoin tengah menguji zona support kritis antara US$59.000—level terendah terakhir—dan retracement Fibonacci 78,6% di sekitar US$63.087. Harga saat ini berada di bawah seluruh rata-rata pergerakan utama, mengonfirmasi tren jangka pendek yang bearish. Para analis menilai bahwa penurunan open interest dan normalisasi funding rate bisa menjadi indikasi bahwa aksi jual paksa telah mencapai puncaknya, namun sentimen pasar masih rapuh.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin ini relevan mengingat meningkatnya adopsi kripto di dalam negeri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus mendorong regulasi yang lebih ketat, namun volatilitas harga global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi portofolio investor lokal. Apakah data PCE akan menjadi titik balik bagi Bitcoin atau justru memperdalam koreksi? Jawabannya akan menentukan arah pasar dalam pekan-pekan mendatang.



