Igor Protti Tutup Usia: Kisah Mesin Gol yang Tak Pernah Jadi Bintang Besar
Baca dalam 60 detik
- Igor Protti, penyerang Italia yang pernah menjadi top skor Serie A bersama Bari pada 1995/96, meninggal dunia di usia 58 tahun.
- Kariernya diwarnai perjalanan dari klub-klub kecil hingga ke Lazio dan Napoli, namun ia lebih dikenal sebagai pahlawan bagi tim-tim provinsi.
- Warisan Protti mengingatkan bahwa sepak bola tidak selalu tentang trofi, melainkan tentang dedikasi dan kebahagiaan yang diberikan kepada penggemar setia.

Igor Protti, penyerang Italia yang namanya mungkin tidak setenar Roberto Baggio atau Alessandro Del Piero, tetapi torehan golnya di Serie A pada musim 1995/96 tetap dikenang sebagai salah satu pencapaian paling luar biasa dalam sejarah sepak bola Italia. Pria kelahiran Rimini itu mengembuskan napas terakhir pada usia 58 tahun, meninggalkan warisan sebagai salah satu penyerang paling produktif yang jarang mendapat sorotan.
Musim puncak Protti terjadi saat ia membela Bari, klub yang saat itu berjuang di papan bawah Serie A. Meski timnya akhirnya terdegradasi, Protti berhasil menjadi top skor bersama Beppe Signori dengan 24 gol, mengungguli nama-nama besar seperti Enrico Chiesa, Oliver Bierhoff, dan Gabriel Batistuta. Prestasi itu semakin istimewa karena ia melakukannya di klub yang tidak memiliki kekuatan finansial atau skuad bertabur bintang. Namun, pencapaian itu tidak cukup untuk membawanya masuk skuad Italia untuk Euro 1996, yang saat itu dipenuhi oleh penyerang kelas dunia.
Karier Protti adalah contoh sempurna dari perjalanan seorang pemain yang memilih jalan berbeda. Setelah memulai dari Rimini, Livorno, dan Virescit Bergamo, ia mendapat kesempatan di Serie B bersama Messina, yang baru saja kehilangan Salvatore Schillaci. Di sana, ia membuktikan diri sebagai pencetak gol andal sebelum akhirnya pindah ke Bari. Setelah musim gemilangnya, ia akhirnya bergabung dengan klub besar Lazio, tetapi tidak pernah benar-benar cocok. Petualangan di Napoli juga tidak membuahkan hasil, dan ia memilih kembali ke divisi bawah bersama Reggiana.
Babak terakhir kariernya bersama Livorno menjadi kisah yang mengharukan. Ia membantu klub tersebut naik dari Serie C ke Serie A, berduet dengan legenda klub Cristiano Lucarelli. Musim terakhirnya di Serie A bersama Livorno menjadi penutup yang manis bagi seorang pemain yang selalu dianggap sebagai 'pangeran dari provinsi'.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Protti mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari ketenaran atau jumlah trofi. Di era di mana sepak bola sering kali didominasi oleh klub-klub kaya dan pemain bintang, Protti adalah representasi dari pemain yang memberikan segalanya untuk klub-klub kecil, seperti halnya pemain-pemain lokal yang menjadi idola di klub-klub daerah di Indonesia. Dedikasinya kepada Livorno, yang dihadiri ribuan pelayat saat pemakamannya, menunjukkan bahwa cinta penggemar bisa menjadi penghargaan tertinggi.
Kepergian Protti meninggalkan kenangan akan seorang penyerang yang lincah, pekerja keras, dan oportunis. Dengan rambut panjang ikalnya yang khas, ia mudah dikenali di lapangan. Meski hanya memiliki satu musim yang benar-benar gemilang, kontribusinya terhadap klub-klub yang dibelanya tidak akan terlupakan. Pertanyaan yang tersisa adalah: akankah sepak bola modern masih memberikan ruang bagi pemain seperti Protti, yang mungkin tidak cocok di klub besar tetapi menjadi pahlawan di tempat lain?



