Giovanni Malagò, Tokoh Olahraga Senior, Resmi Pimpin FIGC
Baca dalam 60 detik
- Giovanni Malagò, yang telah lama memimpin olahraga Italia, terpilih sebagai presiden baru FIGC, menggantikan Gabriele Gravina.
- Malagò dianggap sebagai figur yang stabil dan berpengalaman, tanpa kontroversi yang membayangi pendahulunya.
- Kepemimpinannya diharapkan membawa pendekatan baru dalam mengelola sepak bola Italia yang tengah menghadapi berbagai tantangan.

Giovanni Malagò, seorang veteran yang telah mengelola olahraga Italia selama bertahun-tahun, resmi menjabat sebagai presiden baru Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), menggantikan Gabriele Gravina. Langkah ini diambil di tengah kebutuhan akan figur yang dianggap aman dan berpengalaman untuk memimpin sepak bola Italia yang sedang berusaha bangkit dari berbagai masalah.
Malagò dikenal luas sebagai sosok yang telah lama berkecimpung di dunia olahraga, terutama sebagai presiden Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) sejak 2013. Pengalamannya yang luas dalam mengelola organisasi olahraga membuatnya dipandang sebagai pilihan yang tepat untuk membawa stabilitas di FIGC. Berbeda dengan pendahulunya, Giancarlo Abete dan Gabriele Gravina, yang kerap diwarnai kontroversi, Malagò datang tanpa beban masa lalu yang berat.
Kepemimpinan Malagò di FIGC akan diuji dengan sejumlah tantangan, termasuk reformasi internal, pengembangan sepak bola usia muda, dan peningkatan daya saing tim nasional Italia. Italia sendiri gagal lolos ke Piala Dunia 2022, sebuah pukulan telak yang memicu kritik terhadap pengelolaan sepak bola di negara tersebut. Dengan latar belakangnya di CONI, Malagò diharapkan mampu membawa perspektif baru dan pendekatan yang lebih profesional.
Bagi Indonesia, kepemimpinan baru di FIGC dapat menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia juga tengah berupaya melakukan reformasi setelah berbagai masalah, termasuk tragedi Kanjuruhan dan sanksi FIFA. Pengalaman Malagò dalam menstabilkan organisasi olahraga dapat menjadi referensi bagi PSSI dalam menjalankan transformasi. Selain itu, Italia sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia tetap menjadi tolok ukur bagi pengembangan sepak bola di Asia, termasuk Indonesia.
Ke depan, publik sepak bola Italia menantikan langkah konkret Malagò dalam membenahi federasi. Pertanyaan besarnya adalah: mampukah ia mengembalikan kejayaan sepak bola Italia yang sempat meredup? Atau justru akan terjebak dalam dinamika politik internal yang rumit? Hanya waktu yang akan menjawab, namun pengalaman panjangnya di dunia olahraga memberikan optimisme awal.



