Amazon Prime Day 2025: Panggung Uji Daya Beli Konsumen AS di Tengah Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Amazon Prime Day 2025 digelar lebih awal pada Juni, beralih dari fokus barang elektronik ke kebutuhan pokok seperti sembako dan perlengkapan sekolah.
- Inflasi tinggi dan kenaikan harga BBM mendorong konsumen kelas menengah ke bawah untuk lebih selektif, menunggu diskon demi kebutuhan sehari-hari.
- Amazon memanfaatkan AI Alexa untuk belanja guna meningkatkan konversi, sementara Walmart dan Target ikut serta dalam perang harga yang semakin ketat.

Amazon Prime Day 2025 yang berlangsung pada 23–26 Juni menjadi barometer utama untuk mengukur ketahanan belanja konsumen Amerika Serikat di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga energi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, edisi kali ini lebih condong pada kebutuhan pokok—mulai dari bahan makanan segar hingga perlengkapan sekolah—ketimbang barang-barang mewah atau elektronik mahal.
Perhelatan belanja empat hari itu dimajukan dari Juli ke Juni, dengan alasan Amazon menghindari bentrokan jadwal dengan Piala Dunia FIFA dan perayaan 250 tahun kemerdekaan AS. Langkah ini juga dinilai strategis untuk menangkap belanja musim panas, persiapan Hari Kemerdekaan, serta awal tahun ajaran baru. Namun, perubahan fokus dari barang diskresioner ke kebutuhan dasar mencerminkan kondisi ekonomi yang lebih genting.
Inflasi AS pada Mei mencapai 4,2 persen—tertinggi dalam tiga tahun terakhir—didorong oleh kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. Akibatnya, konsumen berpendapatan rendah dan menengah mulai menghindari pembelian besar. "Orang-orang benar-benar tidak punya uang tunai sekarang," ujar William Stern, CEO Cardiff, perusahaan pemberi pinjaman usaha kecil di AS. "Prime Day tahun ini bukan tentang membeli TV besar atau barang menyenangkan. Ini tentang membeli tisu toilet dan kantong sampah yang sedang diskon."
Amazon sendiri telah menonjolkan penawaran khusus untuk bahan makanan, barang rumah tangga, perjalanan, dan perlengkapan sekolah. Perusahaan juga memperluas layanan pengiriman same-day untuk produk segar, yang menurut mereka semakin mendominasi keranjang belanja anggota Prime. Sementara itu, Adobe Analytics memperkirakan lonjakan permintaan pada pakaian anak-anak, kotak bekal, ransel, kulkas, perkakas listrik, dan penyedot debu.
Salah satu senjata baru Amazon adalah asisten belanja berbasis kecerdasan buatan, Alexa for Shopping. Fitur ini memberikan rekomendasi personal, melacak riwayat harga hingga setahun, serta memungkinkan pembelian otomatis saat harga target tercapai. Bank of America dalam catatannya menyebut alat ini akan menjadi kunci untuk melindungi lalu lintas langsung Amazon, meningkatkan rasio konversi, dan mendorong belanja tambahan di platform.
Persaingan dengan Walmart dan Target juga semakin sengit. Walmart menggelar obral tujuh hari mulai Senin, sementara Target Circle Deal Days berlangsung bersamaan dengan Prime Day. Namun, analis eMarketer Sky Canaves menilai bahwa konsumen tetap sangat strategis dan hanya akan berbelanja di tempat yang menawarkan harga termurah. "Walmart dan Target tidak membuat orang berbelanja lebih banyak secara keseluruhan, mereka hanya berebut orang yang sama," kata Stern.
Bagi Indonesia, pola belanja konsumen AS ini memberikan gambaran tentang bagaimana inflasi dan ketidakpastian global dapat mengubah perilaku pasar. Meski daya beli domestik Indonesia relatif stabil, kenaikan harga pangan dan energi tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Perang harga antarplatform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, dan Lazada juga bisa semakin agresif jika tren konsumen beralih ke kebutuhan pokok berlanjut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pergeseran ke kebutuhan dasar ini hanya bersifat sementara atau akan menjadi norma baru. Dengan inflasi yang masih tinggi dan ketegangan geopolitik yang belum mereda, konsumen mungkin akan terus mengutamakan nilai dan kepraktisan. Prime Day 2025 bisa menjadi awal dari era baru belanja online yang lebih hemat dan terencana.



