AC Milan Ubah Strategi: Eks Bos Red Bull Jadi Arsitek Transfer Baru
Baca dalam 60 detik
- Hendrik Almstadt diproyeksikan mengisi pos baru 'direktur perdagangan pemain' di AC Milan, bukan direktur olahraga.
- Langkah ini menandai pergeseran model manajemen klub Italia yang mulai mengadopsi pendekatan data dan jaringan global ala Red Bull.
- Keputusan Milan bisa menjadi preseden bagi klub Eropa lain, termasuk yang berbasis di Indonesia, dalam merekrut eksekutif non-tradisional.

AC Milan dikabarkan akan mempromosikan Hendrik Almstadt sebagai 'direktur perdagangan pemain' (director of player trading), sebuah pos baru yang dirancang untuk menggantikan peran direktur olahraga yang selama ini lazim di klub sepak bola Eropa. Langkah ini mengindikasikan perubahan haluan strategi klub raksasa Italia itu dalam membangun skuad.
Almstadt, eksekutif asal Jerman yang sebelumnya berkarier di jaringan klub Red Bull (RB Leipzig, New York Red Bulls), dipercaya untuk mengelola lalu lintas pemain masuk dan keluar. Bedanya dengan direktur olahraga konvensional, fokus Almstadt lebih pada optimalisasi nilai aset pemain โ membeli bakat muda dengan harga rendah, mengembangkannya, lalu menjual dengan keuntungan tinggi. Model ini sukses besar di RB Leipzig dan Salzburg.
Keputusan Milan ini tidak lepas dari tekanan regulasi keuangan UEFA (Financial Fair Play) dan kebutuhan untuk menyeimbangkan neraca klub. Dalam tiga musim terakhir, Milan telah membelanjakan lebih dari 200 juta euro untuk rekrutmen, namun pendapatan dari penjualan pemain belum sebanding. Dengan Almstadt, klub berharap bisa meniru kesuksesan klub-klub Jerman dalam menciptakan siklus transfer yang berkelanjutan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Milan ini menarik untuk dicermati. Klub-klub Liga 1 yang mulai serius membangun akademi dan bisnis transfer, seperti Persija Jakarta atau PSM Makassar, bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya struktur organisasi yang memisahkan peran pelatih, direktur olahraga, dan direktur perdagangan. Selama ini, banyak klub Indonesia masih mencampuradukkan ketiga fungsi tersebut, yang seringkali menyebabkan konflik kepentingan dan keputusan transfer yang tidak optimal.
Menurut analis sepak bola Eropa, keputusan Milan juga mencerminkan tren global di mana klub-klub besar mulai meninggalkan model 'sporting director' tradisional yang lebih berorientasi pada aspek teknis lapangan. Sebaliknya, mereka beralih ke eksekutif dengan latar belakang bisnis dan data analytics. โIni adalah evolusi alami dari industri sepak bola yang semakin terindustrialisasi,โ ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Pertanyaan besarnya, akankah Almstadt mampu mempertahankan identitas sepak bola Milan yang kaya sejarah, atau justru mengubahnya menjadi pabrik pemain tanpa jiwa? Jawabannya mungkin baru terlihat dalam dua hingga tiga musim ke depan, ketika hasil dari kebijakan transfer barunya mulai terlihat di lapangan.



