Alan Greenspan Tutup Usia di 100 Tahun: Arsitek Pasar Bebas yang Kontroversial
Baca dalam 60 detik
- Alan Greenspan, mantan Gubernur The Federal Reserve yang menjabat 1987-2006, meninggal pada usia 100 tahun akibat komplikasi Parkinson.
- Ia dikenal karena mempopulerkan istilah 'euforia irasional' yang memicu gejolak pasar global pada 1996, meskipun kebijakannya kemudian dikritik sebagai cikal bakal krisis dot-com.
- Kepergian Greenspan menutup era kepemimpinan bank sentral AS yang sangat berpengaruh, meninggalkan warisan kebijakan moneter yang masih diperdebatkan hingga kini.

Alan Greenspan, tokoh yang identik dengan era keemasan ekonomi Amerika Serikat sekaligus arsitek kebijakan moneter paling kontroversial di abad ke-20, mengembuskan napas terakhir pada usia 100 tahun. Mantan Gubernur Federal Reserve yang memimpin bank sentral AS selama hampir dua dekade itu meninggal akibat komplikasi penyakit Parkinson, sebagaimana diumumkan oleh istrinya, Andrea Mitchell, Senin (22/6/2026).
Kepergian Greenspan bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan hidup panjang, melainkan juga penutup sebuah babak penting dalam sejarah ekonomi global. Selama menjabat dari 1987 hingga 2006, ia memandu perekonomian AS melewati masa-masa turbulensi, termasuk Black Monday 1987, krisis dot-com, dan awal dari gelembung perumahan. Namun, warisannya tetap menjadi perdebatan: apakah ia seorang maestro yang membawa stabilitas atau arsitek yang secara tak sengaja menanam benih krisis 2008?
Bagi pelaku pasar Indonesia, nama Greenspan mungkin lebih dikenal lewat satu frasa yang ia lontarkan pada 5 Desember 1996. Dalam pidato yang disiarkan televisi, ia memperingatkan tentang "irrational exuberance" atau euforia irasional yang melanda pasar saham. "Bagaimana kita tahu kapan 'euforia irasional' telah meningkatkan nilai aset secara berlebihan, yang kemudian menjadi sasaran kontraksi yang tidak terduga?" ujarnya saat itu. Kalimat itu langsung mengguncang pasar saham Tokyo yang anjlok 3% dalam sekejap, dan efeknya menjalar ke bursa global. Meski pasar pulih dengan cepat, peringatan itu menjadi semacam ramalan yang terbukti saat gelembung dot-com pecah pada 2001.
Di Indonesia, warisan Greenspan memiliki resonansi tersendiri. Era kepemimpinannya bertepatan dengan periode transformasi ekonomi Indonesia pasca-Orde Baru, ketika kebijakan moneter AS menjadi acuan bagi aliran modal asing ke pasar emerging. Peringatan Greenspan tentang euforia irasional kerap dikutip oleh analis lokal untuk mengingatkan investor akan risiko gelembung aset, terutama di tengah euforia pasar saham dan properti yang rentan terhadap sentimen global. Bagi Bank Indonesia, jejak Greenspan juga menjadi pelajaran tentang pentingnya komunikasi kebijakan yang hati-hati, karena satu kalimat dari seorang gubernur bank sentral bisa memicu gelombang di pasar keuangan dunia.
Lahir di New York pada 6 Maret 1926 dari keluarga Yahudi, Greenspan kecil tumbuh di lingkungan yang akrab dengan angka. Ayahnya, seorang pialang saham dan analis keuangan, menanamkan minat pada ekonomi sejak dini. Namun, jalan menuju puncak tidaklah mulus. Ia baru meraih gelar Ph.D pada 1977, di usia 51 tahun, setelah sebelumnya membangun karier sebagai konsultan ekonomi yang disegani. Kariernya di pemerintahan dimulai saat menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi di bawah Presiden Gerald Ford, sebelum akhirnya ditunjuk oleh Ronald Reagan untuk memimpin The Fed pada 1987.
Kritik terhadap Greenspan justru menguat setelah pensiun. Banyak ekonom menilai kebijakan suku bunga rendah yang ia terapkan setelah krisis dot-com justru memicu gelembung perumahan yang berujung pada krisis keuangan 2008. Dalam memoarnya, Greenspan mengakui adanya kekeliruan dalam asumsinya tentang perilaku pasar. Namun, ia tetap dihormati sebagai salah satu tokoh yang membentuk tatanan ekonomi modern. Kini, dengan kepergiannya, pertanyaan yang tersisa adalah: siapa lagi yang mampu menggenggam kendali pasar hanya dengan sepatah kata?



