Gelombang Game Buatan AI Akan Datang, Kata Bos CD Projekt RED
Baca dalam 60 detik
- Michał Nowakowski, co-CEO CD Projekt RED, memprediksi banjir game yang sepenuhnya dikembangkan oleh kecerdasan buatan dalam waktu dekat.
- Ia mengungkapkan adanya studio yang mampu memproduksi 40 prototipe game dalam sepekan dan meluncurkan judul dalam tiga minggu berkat AI.
- Meski optimistis, Nowakowski meragukan apakah pendekatan ini benar-benar tepat untuk industri game jangka panjang.

Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar alat bantu dalam industri gim. Michał Nowakowski, co-CEO CD Projekt RED—studio di balik seri The Witcher dan Cyberpunk 2077—memprediksi bahwa gelombang gim yang sepenuhnya dirancang oleh AI akan segera membanjiri pasar. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah wawancara baru-baru ini, menimbulkan spekulasi tentang masa depan kreativitas dan efisiensi di sektor hiburan digital.
Nowakowski mengungkapkan bahwa banyak pemain meremehkan kompleksitas pengembangan gim. Namun, ia melihat perubahan signifikan dengan menjamurnya studio yang mengadopsi generative AI. Dalam percakapannya dengan pendiri sebuah studio berbasis AI, ia mendengar kisah yang mencengangkan: studio tersebut mampu menghasilkan 40 prototipe gim hanya dalam seminggu, menyaringnya menjadi lima kandidat terbaik, dan meluncurkan sebuah gim dalam waktu tiga minggu. “Saya berbincang dengan seseorang yang memulai studio berbasis AI. Dia bilang, ‘Saya bisa punya 40 prototipe dalam sepekan, dua minggu kemudian saya pilih lima yang terbaik, dan tiga minggu kemudian saya benar-benar meluncurkan gim’,” ujar Nowakowski.
Kecepatan produksi semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam industri yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merilis satu judul besar, kemampuan AI untuk mengotomatiskan desain level, pembuatan aset, dan pengujian bisa mengubah lanskap kompetitif. Namun, Nowakowski juga menyuarakan keraguan. “Saya ragu apakah ini benar-benar jalan yang tepat,” katanya, mengisyaratkan kekhawatiran tentang kualitas dan orisinalitas gim yang dihasilkan secara massal oleh AI.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Industri gim Tanah Air yang sedang tumbuh—dengan studio seperti Toge Productions dan Agate—bisa memanfaatkan AI untuk menekan biaya produksi dan mempercepat rilis. Namun, jika gim buatan AI membanjiri pasar global, pengembang lokal harus bersaing tidak hanya dalam hal kuantitas, tetapi juga kualitas dan cerita yang unik. Regulator dan asosiasi industri mungkin perlu merumuskan standar etika penggunaan AI dalam pengembangan gim, terutama terkait hak cipta dan orisinalitas konten.
Para analis menilai bahwa gelombang AI ini tidak akan menggantikan kreativitas manusia sepenuhnya, tetapi akan mengubah peran pengembang. “AI bisa menjadi alat yang ampuh untuk prototyping dan pengujian, tetapi sentuhan manusia tetap diperlukan untuk narasi dan desain yang emosional,” kata seorang pengamat industri. Sementara itu, investor mulai melirik startup AI-gim yang menjanjikan efisiensi tinggi, meskipun risiko kegagalan pasar tetap ada.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah konsumen akan menerima gim yang sepenuhnya dibuat oleh AI, atau justru merindukan sentuhan tangan manusia yang autentik? Jika Nowakowski benar, kita mungkin akan segera menemukan jawabannya dalam beberapa tahun mendatang.



