Tolak Jual GTA VI Edisi Fisik Tanpa Cakram, Ritel Kanada Ini Tegaskan Prinsip
Baca dalam 60 detik
- Video Games Plus (VGP) menolak menjual Grand Theft Auto VI karena edisi fisiknya hanya berisi kode unduh digital, bukan cakram.
- Kebijakan ini didasari komitmen VGP selama 40 tahun terhadap media fisik dan kepemilikan game yang nyata.
- Langkah VGP memicu perdebatan tentang masa depan distribusi game fisik di tengah dominasi digital.

Keputusan Rockstar Games untuk merilis Grand Theft Auto VI edisi fisik tanpa cakram menuai reaksi keras dari salah satu peritel game tertua di Kanada. Video Games Plus (VGP) secara resmi mengumumkan tidak akan menjual gim yang paling dinanti tahun ini, dengan alasan kebijakan perusahaan yang menolak produk berisi kode unduh digital di dalam kotak.
Pengumuman itu muncul hanya beberapa jam sebelum masa prapemesanan dibuka pada Kamis, 25 Juni 2026. VGP, yang telah beroperasi selama hampir empat dekade, menegaskan bahwa komitmen mereka terhadap media fisik tidak bisa ditawar. “Kami tidak menjual produk fisik untuk konsol yang hanya berisi kode unduh digital,” demikian pernyataan resmi VGP di media sosial.
Keputusan ini bukanlah bentuk protes terhadap kualitas gim. VGP menyatakan rasa hormat yang besar terhadap Rockstar Games dan pencapaian luar biasa yang diwakili GTA VI. Namun, mereka menunggu hingga Rockstar merilis edisi yang benar-benar berisi cakram fisik. “Jika suatu hari Rockstar merilis edisi fisik dengan cakram di dalam kotak, kami akan dengan senang hati menjualnya,” tambah pernyataan tersebut.
Langkah VGP menyoroti pergeseran industri game menuju distribusi digital yang kian agresif. Bagi konsumen, edisi fisik tanpa cakram berarti mereka hanya memiliki lisensi, bukan kepemilikan penuh atas gim. Implikasinya, gim tidak bisa dijual kembali di pasar barang bekas, dan akses sepenuhnya bergantung pada syarat dan ketentuan toko daring. Di Indonesia, di mana pasar gim bekas masih cukup aktif, model seperti ini bisa mengurangi daya tarik edisi fisik bagi kolektor dan gamer yang ingin menghemat biaya.
Meski belum ada peritel Indonesia yang mengambil sikap serupa, keputusan VGP bisa menjadi preseden. Analis industri menilai bahwa jika tren “code-in-box” meluas, konsumen akan kehilangan kendali atas produk yang mereka beli. “Ini soal prinsip kepemilikan,” ujar seorang pengamat game. “Ketika Anda membeli kotak, Anda berharap ada cakram di dalamnya, bukan sekadar kertas berisi kode.”
Pertanyaan besarnya: apakah Rockstar akan menggandeng peritel lain yang lebih fleksibel, atau justru mendorong seluruh industri beralih ke digital? Dengan GTA VI yang diprediksi menjadi salah satu peluncuran hiburan terbesar dalam sejarah, tekanan pada rantai pasok fisik akan semakin terasa. Bagi gamer Indonesia, momen ini menjadi pengingat bahwa era kepemilikan game fisik mungkin akan segera berakhir—kecuali jika peritel dan pengembang bersedia berkompromi.



