Swiss Resmi Dukung Olimpiade Musim Dingin 2038, Target Kembali ke Tanah Alpen
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Swiss menyetujui pendanaan hingga 200 juta franc untuk tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2038, membuka jalan bagi pemilihan tuan rumah pada 2027.
- Swiss menjadi kandidat terdepan setelah menjalin dialog istimewa dengan IOC, tanpa pesaing hingga akhir 2027.
- Kekhawatiran lingkungan dari warga Alpen menjadi tantangan utama, mengingat dampak konstruksi dan lonjakan wisatawan terhadap ekosistem pegunungan.

Pemerintah Swiss secara resmi mendukung pencalonan tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin 2038, membuka peluang bagi negara Alpen itu untuk kembali menjadi tuan rumah setelah 90 tahun sejak edisi 1948 di St. Moritz. Keputusan ini diumumkan pada Senin (22/6) oleh Dewan Federal Swiss, yang menyetujui pengajuan rencana pendanaan ke parlemen.
Swiss, yang dikenal sebagai pusat olahraga musim dingin, telah menjalin dialog istimewa dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan menjadi kandidat terdepan tanpa pesaing hingga akhir 2027. IOC sebelumnya menyatakan bahwa jika proses konsultasi politik Swiss selesai pada akhir tahun ini, pemilihan tuan rumah dapat dilakukan pada April 2027.
Dalam rencana yang diajukan, pemerintah federal mengalokasikan dana hingga 200 juta franc Swiss (sekitar $247 juta) yang harus mendapat persetujuan akhir dari parlemen. Konsultasi mengenai rencana 2038 mendapat tanggapan positif secara luas, menurut pernyataan Dewan Federal.
Namun, di balik ambisi olahraga tersebut, muncul kekhawatiran dari penduduk kawasan Alpen. Mereka menilai penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin, dengan pembangunan infrastruktur, aktivitas manusia, serta kedatangan puluhan ribu wisatawan selama 16 hari kompetisi, akan menjadi beban lingkungan bagi ekosistem pegunungan yang rapuh. Isu ini menjadi sorotan utama dalam konsultasi publik yang dilakukan pemerintah.
Bagi Indonesia, meskipun tidak terlibat langsung dalam pencalonan ini, perkembangan Olimpiade Musim Dingin tetap relevan. Sebagai negara yang aktif dalam olahraga internasional, Indonesia dapat mempelajari model pendanaan dan konsultasi publik Swiss yang melibatkan aspek lingkungan. Selain itu, keberhasilan Swiss dalam menyeimbangkan kepentingan olahraga dan kelestarian alam bisa menjadi referensi bagi Indonesia dalam penyelenggaraan event besar, seperti Asian Games atau event olahraga lainnya di masa depan.
Menurut analis olahraga, langkah Swiss menunjukkan tren baru di mana negara-negara dengan ekosistem sensitif mulai mempertimbangkan dampak lingkungan secara serius. โSwiss mencoba menjadi contoh bagaimana Olimpiade bisa berkelanjutan, tetapi tantangan di lapangan masih besar,โ ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya. Ke depannya, publik akan menanti apakah parlemen Swiss menyetujui pendanaan tersebut dan bagaimana IOC merespons kekhawatiran lingkungan yang muncul.



