ITF Berganti Nama Menjadi World Tennis, Targetkan Tambah 34 Juta Pemain Baru
Baca dalam 60 detik
- Federasi Tenis Internasional (ITF) resmi berganti nama menjadi World Tennis, menandai era baru dalam tata kelola olahraga global.
- Organisasi ini berkomitmen menginvestasikan kembali 85 persen pendapatan tahunan selama satu dekade untuk mendorong partisipasi dari 106 juta menjadi 140 juta pemain pada 2035.
- Langkah ini muncul di tengah tuntutan pemain top seperti Novak Djokovic agar terjadi konsolidasi organisasi tenis dunia.

Federasi Tenis Internasional (ITF) yang telah berusia 112 tahun resmi mengubah identitasnya menjadi World Tennis, sebuah langkah strategis untuk memperkuat daya tarik global dan mendorong pertumbuhan partisipasi hingga 30 persen dalam satu dekade ke depan. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (25/6) melalui surat terbuka yang ditandatangani Presiden David Haggerty dan CEO Ross Hutchins.
World Tennis kini tidak hanya bertanggung jawab atas aturan main, turnamen beregu seperti Piala Davis dan Billie Jean King Cup, serta tenis di Olimpiade, tetapi juga mengelola kompetisi di bawah level tur utama. Dengan nama baru, organisasi ini ingin lebih mudah dikenali publik dan berbeda dari ATP (Asosiasi Tenis Profesional putra) maupun WTA (Asosiasi Tenis Wanita).
CEO Ross Hutchins, mantan petenis profesional yang sebelumnya menjabat Kepala Petugas Olahraga ATP, menekankan bahwa nama ITF selama ini kurang dipahami oleh khalayak yang dapat memberikan dampak positif bagi olahraga ini. "World Tennis menunjukkan sifat global kami dan menjadi titik fokus organisasi," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Transformasi ini terjadi di saat tenis dunia menghadapi tekanan dari para pemain papan atas yang menuntut pembagian pendapatan Grand Slam yang lebih adil. Beberapa bintang bahkan membatasi penampilan media mereka di Prancis Terbuka sebagai bentuk protes. Novak Djokovic, peraih 24 gelar Grand Slam, baru-baru ini menyerukan perlunya persatuan antarorganisasi tenis agar olahraga ini tidak terfragmentasi.
Hutchins menegaskan bahwa World Tennis akan menjadi motor kolaborasi. "Saya sangat terbuka dan transparan dalam apa yang saya yakini, dan sekarang di posisi ini, saya merasakannya lebih kuat dari sebelumnya, bahwa kolaborasi adalah jalan ke depan," katanya.
Bagi Indonesia, perubahan ini membawa angin segar. Dengan target partisipasi global yang ambisius, peluang bagi petenis Tanah Air untuk mendapatkan lebih banyak turnamen pengembangan dan program pelatihan dari World Tennis semakin terbuka. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengajukan lebih banyak program pengembangan usia dini dan turnamen internasional level junior di dalam negeri.
Namun, tantangan tetap ada. Indonesia masih bergulat dengan minimnya infrastruktur lapangan tenis dan pembinaan atlet yang merata. Jika World Tennis benar-benar merealisasikan reinvestasi 85 persen pendapatannya, Indonesia harus siap bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya untuk mendapatkan alokasi dana tersebut.
Pertanyaan besarnya: apakah rebranding ini cukup untuk menyatukan kepentingan pemain, turnamen, dan federasi nasional yang kerap berbenturan? Atau hanya sekadar perubahan nama tanpa perubahan substansial? Waktu yang akan menjawab, namun langkah World Tennis setidaknya menunjukkan kesadaran bahwa tenis perlu berbenah agar tetap relevan di era olahraga modern.



