Jeremy Doku Pilih Keluarga di Atas Piala Dunia: Gelombang Dukungan dari Dunia Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Pemain sayap Manchester City, Jeremy Doku, menyatakan akan meninggalkan kamp pelatihan Belgia demi mendampingi istrinya melahirkan, meski bertepatan dengan fase gugur Piala Dunia.
- Komentar presenter L'Equipe yang menyebut ayah 'tidak berguna' saat kelahiran anak menuai kecaman luas, memicu diskusi tentang hak cuti ayah di sepak bola pria.
- FIFA tidak memiliki aturan khusus cuti ayah, berbeda dengan cuti melahirkan pemain wanita, mendorong seruan untuk kebijakan yang lebih manusiawi.

Keputusan Jeremy Doku untuk mendahulukan kelahiran anak pertamanya ketimbang membela Belgia di Piala Dunia memicu perdebatan sengit sekaligus solidaritas dari berbagai kalangan sepak bola. Pemain sayap Manchester City berusia 24 tahun itu menegaskan bahwa tidak ada yang ingin melewatkan momen kelahiran buah hati pertama, meski harus absen dari laga penting bersama tim nasional.
Kontroversi bermula saat presenter stasiun televisi L'Equipe, France Pierron, melontarkan pernyataan kontroversial bahwa seorang ayah "benar-benar tidak berguna" pada saat kelahiran anak, dan menyebut momen tersebut sebagai "pengalaman menjijikkan". L'Equipe segera meminta maaf dan menyatakan komentar itu "jauh dari nilai-nilai" perusahaan. Pierron pun menyampaikan permintaan maaf dan dilaporkan tidak akan membawakan acaranya pada Senin berikutnya.
Doku, yang dibeli dari Rennes seharga ยฃ55,4 juta pada 2023, bermain 86 menit saat Belgia imbang 1-1 melawan Mesir di laga pembuka Grup G, namun absen saat melawan Iran karena sakit. Istrinya, Shireen, diperkirakan melahirkan pada pekan kedua Juli, yang bisa membuat Doku melewatkan perempat final jika Belgia lolos. "Jika Anda bertanya apa yang saya inginkan, jawaban saya adalah tidak ada yang ingin melewatkan kelahiran anak pertama mereka," ujar Doku kepada Reuters. "Tapi saya juga tahu bahwa sepak bola melibatkan banyak pertimbangan lain. Saya tahu federasi mendukung pemainnya dan memahami situasi mereka. Kita lihat saja apa yang bisa dilakukan."
Dukungan mengalir dari sesama pemain. Striker Inggris Ollie Watkins, yang memiliki dua anak, menegaskan bahwa melabeli kelahiran sebagai sesuatu yang menjijikkan adalah tindakan yang tidak pantas. "Itu hanya terjadi sekaliโmenyambut anak pertama Anda ke duniaโdan itu adalah berkah. Banyak waktu Anda jauh dari keluarga dan teman selama musim kompetisi, dan itu sangat sulit, jadi melewatkan momen itu akan berat," kata Watkins.
Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) menyatakan bahwa tuntutan profesional tidak boleh mengorbankan "momen-momen fundamental keluarga". Juru bicara PFA menekankan pentingnya mendukung pemain sebagai manusia, bukan sekadar atlet, demi menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Fatherhood Institute, lembaga yang mendukung peran aktif ayah, juga membela Doku. Wakil direktur eksekutif Jeremy Davies menganalogikan ekspektasi terhadap pemain seperti gladiator di Colosseum: "Kami ingin mereka menjadi pahlawan yang menghibur. Mereka dibayar mahal, tapi ada hal-hal yang jauh lebih berharga."
FIFA memang memiliki aturan cuti melahirkan minimal 14 minggu dengan bayaran penuh untuk pemain wanita, namun tidak ada ketentuan serupa untuk cuti ayah di sepak bola pria. Hal ini membuat pemain pria harus berjuang sendiri menyeimbangkan tanggung jawab. Beberapa klub telah mengambil inisiatif sendiri, seperti menyediakan mobil siaga di luar stadion bagi pemain yang pasangannya akan melahirkan. Seorang manajer klub papan atas Eropa bahkan memilih tidak bepergian ke pertandingan demi mendampingi istrinya melahirkan anak kedua, dan memberikan instruksi dari rumah melalui telepon.
Kisah Doku bukanlah yang pertama. Fabian Delph meninggalkan kamp Inggris di Piala Dunia 2018 untuk kelahiran putrinya. David Silva melewatkan dua pertandingan Manchester City setelah kelahiran prematur putranya. David de Gea mendapat cuti panjang saat pandemi Covid-19 untuk menemani pasangannya melahirkan. Namun, tidak semua pemain seberuntung itu. Bek Norwegia Leo Ostigard menyaksikan kelahiran putranya melalui FaceTime saat berada di Piala Dunia. Ruben Neves juga harus menyaksikan kelahiran anak ketiganya dari ponsel di bus tim setelah pertandingan, karena istrinya berada di Portugal dan terkendala pembatasan perjalanan.
Mantan manajer Brentford dan Tottenham, Thomas Frank, yang kini menjadi pundit BBC Sport, menegaskan bahwa sepak bola adalah "hal terpenting dari hal-hal yang tidak penting". Ia selalu menyarankan pemainnya untuk hadir saat kelahiran anak. "Melihat istri atau pasangan Anda melahirkan adalah salah satu pengalaman terbesar yang akan Anda alami," ujarnya. Frank yakin Doku mengambil keputusan yang tepat, dan saat kembali ia akan berada dalam kondisi mental yang prima.
Di Indonesia, isu cuti ayah juga masih menjadi perdebatan. Undang-Undang Ketenagakerjaan memberikan hak cuti bagi pekerja pria untuk menemani istri melahirkan, namun implementasinya kerap tidak optimal. Kasus Doku menjadi pengingat bahwa di tengah tekanan profesional, momen keluarga tetap tak tergantikan. Pertanyaannya kini: akankah FIFA dan federasi sepak bola global mulai merumuskan kebijakan cuti ayah yang lebih jelas, atau para pemain harus terus berjuang sendiri?



