Di Tengah Perang, Timnas Iran Tinggalkan Pesan Perdamaian di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Iran menulis pesan harapan perdamaian di ruang ganti setelah bermain imbang tanpa gol melawan Belgia di Piala Dunia 2026.
- Partisipasi Iran di turnamen ini dibayangi ketidakpastian akibat perang dengan AS, termasuk pembatasan visa dan relokasi markas ke Meksiko.
- Pesan tersebut juga mengenang serangan di sekolah perempuan di Minab yang menewaskan 168 orang pada hari pertama perang.

Tim nasional Iran meninggalkan secarik pesan tulisan tangan di ruang ganti Stadion Los Angeles setelah bermain imbang 0-0 melawan Belgia pada laga kedua Grup G Piala Dunia 2026, Selasa (25/6) waktu setempat. Pesan bernada damai itu menjadi pengingat bahwa di tengah konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat—negara tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko—semangat olahraga tetap bisa menjadi jembatan kemanusiaan.
Dalam pernyataan yang dirilis Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI), pesan tersebut diawali dengan kalimat: "Dari Persia kuno ribuan tahun lalu hingga Iran yang beradab saat ini, semangat Iran tetap hidup dan teguh." Tim asuhan Amir Ghalenoei itu juga mengucapkan terima kasih kepada Los Angeles atas keramahtamahannya serta kepada seluruh suporter Iran yang telah memberikan dukungan selama 180 menit pertandingan. "Semoga perdamaian, rasa hormat, dan persahabatan berlaku di antara semua bangsa," demikian bunyi akhir pesan tersebut.
Pesan itu juga menyebut serangan terhadap sekolah perempuan di Minab yang menewaskan sedikitnya 168 orang pada hari pertama perang. Ini menjadi pengingat bahwa setiap pertandingan yang dijalani Iran di Piala Dunia kali ini tidak lepas dari situasi geopolitik yang mencekam. Iran sebelumnya bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru di stadion yang sama, dan akan menghadapi Mesir di Seattle pada 27 Juni mendatang.
Partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 sejak awal dibayangi ketidakpastian. Beberapa staf kunci tim ditolak visa masuk AS, sementara alokasi tiket untuk suporter Iran dicabut sehari sebelum turnamen dimulai. FFIRI mengecam keputusan FIFA yang dianggap tidak netral. Akibatnya, Iran memindahkan markas dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, dan harus mematuhi aturan visa ketat: hanya boleh terbang ke AS sehari sebelum pertandingan dan wajib meninggalkan negara itu pada hari yang sama.
Pelatih Amir Ghalenoei menyebut timnya sebagai "tim paling tertindas" di turnamen ini setelah hasil imbang melawan Selandia Baru. Namun, Andrew Giuliani, direktur eksekutif satuan tugas Piala Dunia Gedung Putih, mengatakan bahwa pembahasan mengenai pengaturan perjalanan untuk laga melawan Mesir masih berlangsung. Situasi ini menunjukkan betapa rumitnya penyelenggaraan Piala Dunia ketika politik dan olahraga beradu dalam satu panggung.
Bagi Indonesia, kisah Iran menjadi cermin bagaimana sepak bola bisa menjadi alat diplomasi sekaligus korban politik global. Di tengah euforia Piala Dunia, pesan perdamaian Iran mengingatkan bahwa olahraga seharusnya menjadi pemersatu, bukan pemecah. Pertanyaan besarnya: akankah momen seperti ini mampu meredakan ketegangan, atau justru semakin memperuncing perbedaan?



