Pasar Smart Home Indonesia Baru Tergarap Rp 1 Triliun, Lokal Masih Berjuang
Baca dalam 60 detik
- Bardi Smart Home, produsen lokal, mencatat pertumbuhan bisnis smart home belasan persen per tahun di tengah potensi pasar IoT nasional Rp 200 triliun.
- Penetrasi produk smart home buatan dalam negeri masih rendah; Indonesia lebih banyak menjadi pasar ketimbang produsen inovasi.
- Dukungan kebijakan dan ekosistem riset dinilai krusial agar produk lokal mampu bersaing dengan merek global di segmen rumah pintar.

Pasar perangkat rumah pintar (smart home) di Indonesia baru menyentuh angka Rp 1 triliun, masih jauh dari potensi total Internet of Things (IoT) yang diperkirakan mencapai Rp 200 triliun. Kesenjangan itu menunjukkan betapa besarnya peluang sekaligus tantangan bagi produsen lokal untuk merebut hati konsumen di tengah gempuran merek internasional.
Ryan Maurice Tallulah, pendiri Bardi Smart Home, mengungkapkan bahwa pertumbuhan segmen smart home perusahaannya baru sekitar belasan persen setiap tahun. "Ini masih sangat kecil dibandingkan potensi pasar IoT secara keseluruhan. Artinya, ruang untuk tumbuh masih sangat luas," ujarnya dalam wawancara dengan media beberapa waktu lalu. Bardi Smart Home merupakan salah satu produsen lokal yang fokus pada solusi smart living terjangkau, seperti lampu otomatis, kunci pintar, dan sensor keamanan.
Meski optimistis, Ryan mengakui bahwa Indonesia saat ini masih berstatus sebagai pasar, belum menjadi pusat produksi dan inovasi smart home. Produk lokal harus bersaing dengan pemain global yang sudah memiliki ekosistem matang dan kepercayaan konsumen. Untuk mengubah posisi tersebut, diperlukan dukungan besar dari berbagai pihak, mulai dari insentif riset, kemudahan regulasi, hingga kampanye cinta produk dalam negeri.
Adopsi teknologi digital di rumah tangga memang terus meningkat. Konsep smart home memungkinkan pemilik rumah memonitor dan mengendalikan peralatan elektronik dari jarak jauh, menghemat energi, serta meningkatkan keamanan. Namun, harga perangkat yang relatif mahal dan kurangnya edukasi konsumen masih menjadi hambatan. Produsen lokal seperti Bardi berupaya menawarkan produk dengan harga lebih kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Dari sisi kebijakan, pemerintah sebenarnya telah mendorong industri IoT melalui berbagai program, termasuk Making Indonesia 4.0. Namun, implementasi di sektor smart home belum optimal. Para pelaku usaha berharap ada insentif fiskal bagi produsen komponen lokal dan standarisasi interoperabilitas agar perangkat buatan dalam negeri bisa saling terhubung dengan ekosistem global.
Ke depan, persaingan di pasar smart home diprediksi semakin ketat seiring masuknya pemain baru dan turunnya harga komponen. Pertanyaan besarnya: mampukah produk lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga memimpin inovasi di negeri sendiri? Jawabannya tergantung pada kolaborasi antara industri, akademisi, dan pemerintah dalam membangun ekosistem yang kondusif.



