Nissan Hentikan Pengembangan Qashqai Listrik, Fokus ke Hybrid di Tengah Tekanan Biaya
Baca dalam 60 detik
- Nissan menghentikan proyek mobil listrik Qashqai untuk Eropa demi efisiensi biaya, meninggalkan celah di segmen SUV yang dikuasai pesaing.
- Keputusan ini dipicu oleh perlambatan permintaan EV di Eropa dan persaingan ketat dari merek China serta rival tradisional.
- Langkah ini berpotensi menunda kehadiran Qashqai listrik hingga awal 2030-an, sementara Nissan beralih ke hybrid dan menjajaki kerja sama dengan Chery.

Nissan secara diam-diam menghentikan pengembangan versi listrik dari model terlarisnya di Eropa, Qashqai, sebagai bagian dari strategi pemangkasan biaya dan perampingan lini produk. Keputusan ini diambil di tengah banjirnya mobil listrik murah dari pesaing tradisional dan pendatang baru asal China, yang semakin mempersempit ruang gerak pabrikan Jepang tersebut.
Proyek yang diumumkan pada 2023 itu awalnya direncanakan akan diproduksi di pabrik Sunderland, Inggris—pabrik mobil terbesar di negara tersebut. Pemerintah Inggris saat itu menyambut baik rencana tersebut sebagai bukti posisi Inggris sebagai pusat manufaktur kendaraan listrik global. Namun, tanpa jadwal pasti, pengembangan Qashqai listrik ternyata sudah dihentikan sejak awal tahun lalu, menurut enam sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Keputusan ini menjadi pukulan bagi ambisi elektrifikasi Nissan di Eropa. Qashqai menyumbang sekitar 45 persen dari total penjualan Nissan di Eropa yang mencapai 330.000 unit pada 2025. Dengan menghentikan proyek ini, Nissan berisiko tertinggal di segmen pasar yang justru tumbuh pesat. Dua sumber memperkirakan, meskipun proyek dihidupkan kembali, Qashqai listrik kemungkinan baru bisa meluncur pada awal 2030-an.
Nissan beralasan bahwa pasar Eropa mengalami volatilitas permintaan kendaraan listrik yang signifikan. Dalam pernyataannya, perusahaan menegaskan tetap berkomitmen memperluas lini produk yang “dielektrifikasi”, termasuk model hybrid. Namun, mereka tidak secara spesifik membahas masa depan Qashqai listrik. Langkah ini sejalan dengan restrukturisasi global Nissan yang lebih luas, termasuk pembatalan produksi dua SUV listrik di pabrik Canton, Mississippi, dan pengurangan jumlah model dari 56 menjadi 45.
Di tengah ketidakpastian ini, Nissan justru menjajaki kerja sama dengan pabrikan China, Chery, untuk memproduksi kendaraan Chery di salah satu jalur produksi Sunderland. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi Nissan dari fokus penuh pada EV menuju pendekatan yang lebih fleksibel, termasuk hybrid dan kemitraan.
Pemerintah Inggris sendiri tengah berkonsultasi dengan produsen mobil untuk melonggarkan aturan penjualan kendaraan listrik yang selama ini memberatkan. Jika aturan dilonggarkan, Nissan bisa lebih leluasa memproduksi hybrid di Sunderland. Namun, ketidakpastian aturan konten lokal Uni Eropa pasca-Brexit juga membayangi prospek ekspor mobil Inggris ke benua biru, yang mencapai 60 persen dari total produksi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa transisi ke kendaraan listrik tidak selalu mulus, bahkan bagi pemain global sekalipun. Kebijakan insentif EV di Indonesia yang agresif—seperti pengurangan pajak dan pembangunan ekosistem baterai—justru bisa menjadi keunggulan kompetitif. Namun, volatilitas permintaan global dan perang harga EV bisa mempengaruhi keputusan investasi pabrikan di Tanah Air. Pertanyaan besarnya: akankah Nissan tetap konsisten dengan rencana elektrifikasi di Indonesia, atau justru mengikuti jejak langkah serupa?



