Jepang-Kanada Perkuat Kerja Sama Pertahanan di Tengah Ketegangan Global
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dan mitranya dari Kanada David McGuinty akan bertemu pekan ini untuk membahas penguatan aliansi pertahanan.
- Perjanjian transfer teknologi dan peralatan pertahanan bilateral yang baru berlaku pekan lalu membuka peluang ekspor-impor alutsista antara kedua negara.
- Kanada dikabarkan berminat membeli jet tempur generasi berikutnya yang dikembangkan bersama Jepang, Inggris, dan Italia.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengumumkan rencana pertemuan dengan mitranya dari Kanada, David McGuinty, pada Rabu pekan ini di Tokyo. Langkah ini menjadi sinyal penguatan kerja sama pertahanan bilateral di tengah dinamika keamanan global yang kian kompleks.
Koizumi menekankan bahwa kolaborasi dengan Kanada memiliki arti strategis, terutama karena keamanan kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik kini saling terkait. "Kerja sama pertahanan dengan Kanada menjadi penting karena keamanan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik tidak dapat dipisahkan," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (22/6). Ia juga menyoroti meningkatnya keterlibatan Ottawa di kawasan Indo-Pasifik dalam beberapa tahun terakhir.
Pertemuan bilateral ini dijadwalkan berlangsung di Kementerian Pertahanan Jepang. Koizumi menyatakan akan mendorong diskusi yang terbuka dan konkret untuk memperdalam kerja sama pertahanan kedua negara. Agenda utama meliputi pengembangan proyek bersama dan peningkatan interoperabilitas militer.
Pekan lalu, perjanjian bilateral tentang transfer peralatan dan teknologi pertahanan mulai berlaku. Kesepakatan ini membuka jalur bagi ekspor dan impor peralatan militer antara Jepang dan Kanada, memperkuat rantai pasok pertahanan kedua negara. Bagi Jepang, ini merupakan langkah maju dalam kebijakan pertahanan yang sebelumnya sangat restriktif terhadap ekspor senjata.
Kanada dilaporkan tertarik untuk membeli jet tempur generasi berikutnya yang tengah dikembangkan dalam program bersama Jepang, Inggris, dan Italia. Program Global Combat Air Programme (GCAP) tersebut menargetkan pengembangan pesawat tempur siluman pada pertengahan 2030-an. Ketertarikan Kanada menunjukkan potensi perluasan pasar bagi proyek ambisius ini.
Dalam kesempatan yang sama, Koizumi juga menanggapi pengumuman Iran yang kembali menutup Selat Hormuz. Ia menyatakan Jepang berharap navigasi di selat strategis tersebut dapat kembali berlangsung aman dan bebas. "Jepang akan melakukan segala upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah dengan terus bekerja sama erat dengan komunitas internasional," tegasnya.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama pertahanan Jepang-Kanada di Indo-Pasifik patut dicermati. Sebagai negara yang juga aktif dalam arsitektur keamanan kawasan, Indonesia dapat melihat dinamika ini sebagai peluang untuk memperluas kerja sama pertahanan dengan kedua negara. Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz mengingatkan pada kerentanan jalur energi global, yang juga berdampak pada harga minyak dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Ke depan, pertemuan ini diharapkan menghasilkan peta jalan konkret untuk kerja sama pertahanan, termasuk kemungkinan latihan militer bersama dan transfer teknologi. Akankah Kanada menjadi mitra kunci Jepang dalam menjaga stabilitas Indo-Pasifik? Jawabannya akan mulai terlihat dari hasil pembicaraan Rabu nanti.



