DBS: AI Mulai Menopang Pertumbuhan Pendapatan Fee, Bukti Nyata Transformasi Digital Perbankan
Baca dalam 60 detik
- DBS mencatatkan laba bersih kuartal kedua yang memecahkan rekor, dengan AI mulai berkontribusi nyata pada pendapatan berbasis fee.
- Inisiatif AI dan analitik data bank asal Singapura ini telah menghasilkan nilai ekonomi sekitar S$1 miliar pada 2025.
- Ke depan, DBS berencana memperluas penggunaan AI untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung pertumbuhan bisnis wealth management dan capital markets.

Dalam laporan kinerja kuartal kedua yang diumumkan Kamis lalu, DBS mencatatkan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah dan merevisi naik proyeksi keuangan untuk 2026. Di balik angka gemilang itu, ada satu pendorong yang mulai menunjukkan hasil nyata: kecerdasan buatan (AI). Sang CEO, Tan Su Shan, mengungkapkan bahwa teknologi ini kini mulai berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan berbasis fee, terutama di lini wealth management dan corporate banking.
Menurut Tan, AI telah membantu para relationship manager (RM) di segmen korporasi menyusun ide-ide strategis yang lebih tajam untuk klien, termasuk dalam hal merger dan akuisisi. "Seorang RM muda yang dibekali AI kini bisa berbicara dengan CEO atau CFO perusahaan dan memberikan gagasan strategis yang sebelumnya membutuhkan pengalaman senior," ujarnya dalam wawancara dengan CNA. Hal ini, lanjut dia, menjadi sarana upskilling bagi staf muda dan mendorong peningkatan transaksi tanpa menambah jumlah karyawan.
Di sisi wealth management, AI mempercepat proses onboarding nasabah dan pemeriksaan know-your-customer (KYC), serta menghasilkan rekomendasi investasi yang tepat waktu. Tan menyebut AI mampu memberikan "sound bites" dan pengingat yang relevan bagi nasabah, sehingga meningkatkan frekuensi transaksi. "Kami mulai melihat tunas-tunas hijau AI bekerja dalam menghasilkan ide yang berujung pada fee," katanya, seraya menambahkan bahwa AI menciptakan "flywheel" pendapatan fee yang berputar semakin cepat.
DBS telah menginvestasikan dana besar dalam AI selama beberapa tahun terakhir, menerapkannya di berbagai fungsi mulai dari layanan pelanggan, manajemen risiko, hingga rekayasa perangkat lunak. Pada awal tahun ini, bank tersebut mengumumkan bahwa inisiatif AI dan analitik data mereka menghasilkan nilai ekonomi sekitar S$1 miliar (sekitar US$780 juta) pada 2025. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa transformasi digital bukan sekadar wacana, melainkan sudah menyentuh lini bisnis inti.
Selain AI, optimisme DBS juga didorong oleh stabilnya suku bunga Singapura setelah mengalami penurunan setahun terakhir. "Kami melihat suku bunga telah mencapai titik terendah dan mulai stabil," ungkap Tan. Kondisi ini meredakan tekanan pada pendapatan bunga bersih bank. Yang lebih membanggakan, pertumbuhan fee income terjadi di berbagai lini, tidak hanya wealth management, tetapi juga corporate banking, transaction banking, dan biaya pinjaman.
Pencapaian ini menjadi sorotan bagi industri perbankan di kawasan, termasuk Indonesia. Bank-bank nasional di Tanah Air tengah gencar mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan layanan. Keberhasilan DBS menunjukkan bahwa investasi AI tidak hanya meningkatkan produktivitas internal, tetapi juga berdampak langsung pada pendapatan. Hal ini bisa menjadi pemicu bagi bank-bank Indonesia untuk mempercepat transformasi digital mereka, terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dari bank digital dan perusahaan fintech.
Menanggapi dinamika geopolitik yang meningkatkan daya tarik Singapura sebagai pusat kekayaan, Tan menegaskan bahwa strategi DBS tetap melayani nasabah baik di pasar domestik maupun internasional. "Kekayaan umumnya tercipta di pasar asal nasabah, dan layanan offshore harus melengkapi hubungan domestik tersebut," jelasnya. Singapura dan Hong Kong tetap menjadi pusat kekayaan yang menarik karena pasar keuangan yang terbuka, talenta yang dalam, dan beragam peluang investasi. Sementara itu, Taiwan menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang berkat ekosistem semikonduktor dan teknologinya.
Ke depan, DBS berkomitmen untuk terus berinvestasi di bisnis dengan pertumbuhan struktural jangka panjang, seperti wealth management dan capital markets, sambil memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas di seluruh organisasi. "Strategi pertumbuhan kami adalah memastikan kami terus mengungguli, baik pasar naik maupun turun," tegas Tan. Pertanyaannya, apakah bank-bank lain, termasuk di Indonesia, akan mampu mengikuti jejak DBS dalam memanfaatkan AI secara optimal untuk mendorong pertumbuhan pendapatan? Atau akankah kesenjangan digital antara bank-bank besar dan kecil semakin melebar?



