Prabowo Sesalkan Indonesia Gagal ke Piala Dunia, Singgung Cape Verde: 'Kita Harus Berani Berbenah'
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengakui kegagalan Indonesia menembus Piala Dunia sebagai 'fakta yang tidak enak' di hadapan 150 peneliti BRIN.
- Perbandingan dengan Cape Verde, negara berpenduduk 500 ribu, dijadikan pemicu introspeksi nasional tanpa mencari kambing hitam.
- Pernyataan ini mengindikasikan arah baru kebijakan olahraga yang berbasis riset dan evaluasi mendalam, bukan sekadar retorika.

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui kegagalan Indonesia menembus putaran final Piala Dunia sebagai sebuah 'fakta yang tidak enak', bahkan membandingkannya dengan Cape Verde, negara kepulauan berpenduduk sekitar 500 ribu jiwa yang justru berhasil tampil di ajang paling prestisius tersebut. Pernyataan ini disampaikan di hadapan sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/6).
Dengan jumlah penduduk mencapai 287 juta jiwa—peringkat keempat terbesar di dunia—Indonesia dinilai Prabowo belum mampu bersaing di level tertinggi sepak bola global. "Contoh yang kecil saja... Masa negara kecil seperti Cape Verde masuk. Mungkin jumlah penduduknya dengan Kabupaten Sumedang mungkin lebih banyak Sumedang," ujarnya, menekankan ironi yang tidak bisa diabaikan. Pernyataan ini bukan sekadar keluhan, melainkan ajakan untuk melakukan introspeksi total terhadap sistem pembinaan sepak bola nasional.
Prabowo secara eksplisit meminta seluruh pemangku kepentingan untuk berhenti mencari kambing hitam dan mulai mempelajari resep keberhasilan negara-negara kecil seperti Cape Verde. "Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita harus berani berbuat," tegasnya. Ia menyoroti aspek-aspek fundamental seperti asal pelatih, kualitas pendidikan sepak bola, dan struktur pembinaan usia muda yang selama ini mungkin terabaikan. Ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah tidak lagi puas dengan sekadar rutinitas kompetisi domestik.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Negara mengaitkan kemajuan bangsa, termasuk di bidang olahraga, dengan penguasaan sains dan teknologi. "Pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu mampu menguasai sains dan teknologi atau tidak," katanya. Pesan ini relevan tidak hanya untuk sepak bola, tetapi juga untuk seluruh sektor strategis nasional. Bagi para periset BRIN yang hadir, pernyataan ini menjadi penegasan bahwa riset harus berdampak langsung pada solusi nyata, termasuk dalam mengatasi kebuntuan prestasi olahraga.
Pernyataan Prabowo ini memicu perdebatan publik tentang efektivitas pengelolaan sepak bola nasional yang selama ini kerap diwarnai konflik kepentingan dan minimnya pembinaan jangka panjang. Para pengamat olahraga menilai, tanpa perubahan struktural yang mendasar—mulai dari kompetisi usia muda hingga profesionalisme manajemen—target lolos Piala Dunia akan tetap menjadi mimpi. Langkah pemerintah untuk membentuk tim evaluasi independen, seperti yang diisyaratkan, bisa menjadi titik balik jika dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah pemerintah berani mengambil keputusan tidak populer, seperti membekukan kompetisi yang tidak sehat atau mengganti seluruh jajaran pelatih dengan profesional asing? Atau akankah pernyataan ini hanya menjadi retorika politik tanpa tindak lanjut konkret? Publik menunggu bukti nyata dari komitmen yang disuarakan Presiden di hadapan para ilmuwan BRIN.



