Prabowo Akui Skor Literasi Indonesia Jauh Tertinggal: Hanya Ungguli Filipina
Baca dalam 60 detik
- Skor PISA 2022 untuk kemampuan membaca di Indonesia tercatat 359, turun 12 poin dari capaian 2018.
- Presiden Prabowo menilai rendahnya skor tersebut sebagai alarm untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional.
- Perbandingan dengan Singapura dianggap tidak adil karena perbedaan jumlah penduduk dan sebaran sekolah yang sangat timpang.

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui bahwa kemampuan literasi masyarakat Indonesia masih memprihatinkan, dengan skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang hanya mencapai 359โsedikit di atas Filipina dan jauh di bawah negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, hingga Singapura. Pernyataan itu disampaikan di hadapan 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8/2026), sebagai pengakuan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi di sektor pendidikan.
Data OECD menunjukkan skor membaca Indonesia turun dari 371 pada 2018 menjadi 359 pada 2022. Penurunan ini menempatkan Indonesia di posisi kedua terbawah di kawasan Asia Tenggara, hanya unggul dari Filipina. Sementara itu, Vietnam, Malaysia, dan Thailand berada jauh di atas, belum lagi rata-rata negara OECD yang mencapai 476. Kondisi ini menjadi sorotan karena kemampuan membaca merupakan fondasi utama bagi penguasaan sains, teknologi, dan keterampilan abad ke-21.
Prabowo tidak menampik bahwa hasil tersebut merupakan cerminan nyata dari kualitas pendidikan nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh alergi terhadap kritik, melainkan harus menjadikan temuan PISA sebagai pemicu untuk melakukan perombakan mendasar. "Ini realitas yang saya sampaikan. Ini orang lihat kita, ya kita boleh kita terima. Tapi jangan terlalu takut," ujarnya, menekankan bahwa ketertinggalan tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Meski demikian, Kepala Negara mengingatkan agar perbandingan dengan negara maju seperti Singapura dilakukan secara proporsional. Indonesia adalah negara kepulauan dengan hampir 287 juta penduduk dan sekitar 388 ribu sekolah yang tersebar hingga ke pelosok. Sebaliknya, Singapura hanya memiliki satu wilayah daratan dengan populasi sekitar 5 juta jiwa, sehingga jangkauan pengawasan pendidikannya jauh lebih mudah. "Menteri pendidikan kalau mengecek sekolah-sekolah mungkin dua jam selesai, terjangkau dari kantornya. Kesulitan kita sangat besar," jelasnya.
Pernyataan Prabowo ini sejalan dengan kekhawatiran para pegiat pendidikan yang selama ini menyuarakan perlunya perbaikan kurikulum, peningkatan kualitas guru, serta pemerataan akses buku dan teknologi di daerah terpencil. Penurunan skor PISA juga mengindikasikan bahwa pandemi Covid-19 yang sempat menutup sekolah dalam waktu lama masih meninggalkan luka yang dalam pada proses pembelajaran. Meski pemerintah telah meluncurkan berbagai program seperti Merdeka Belajar, efektivitasnya di lapangan masih perlu dievaluasi secara serius.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menaikkan angka, tetapi memastikan bahwa peningkatan tersebut merata di seluruh wilayah. Pertanyaannya, apakah pemerintah mampu mentransformasi temuan PISA menjadi kebijakan konkret yang menyentuh sekolah-sekolah di daerah tertinggal? Atau justru akan kembali menjadi sekadar wacana yang menghiasi pidato kenegaraan? Publik tentu menunggu langkah nyata yang segera diambil.



