BGN Percepat Pembangunan Dapur MBG di Wilayah 3T: Target Satu Minggu, Stunting Jadi Prioritas
Baca dalam 60 detik
- Badan Gizi Nasional memangkas tenggat pembangunan SPPG di daerah 3T dari satu bulan menjadi satu minggu untuk mempercepat intervensi gizi.
- Pemetaan berbasis data mengarahkan prioritas ke wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, termasuk Papua, NTT, dan Maluku.
- Sebanyak 1.700 dapur telah diidentifikasi siap beroperasi, menandai langkah konkret dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis.

Badan Gizi Nasional (BGN) memangkas tenggat pembangunan dan pengaktifan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dari semula satu bulan menjadi hanya satu minggu. Langkah ini diambil untuk mempercepat jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke daerah dengan angka stunting tertinggi, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan bahwa percepatan ini bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga ketepatan sasaran. Pihaknya mengandalkan pendekatan berbasis data untuk memetakan wilayah-wilayah yang paling membutuhkan intervensi gizi. "Wilayah Papua, NTT, Nias, Maluku, Maluku Utara, dan daerah-daerah yang jauh menjadi prioritas karena masyarakat di sana sangat membutuhkan," ujarnya di Jakarta, Kamis (19/2). Arahan Menko Pangan bersama kementerian terkait, lanjut dia, adalah memastikan program berjalan cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi.
Keputusan mempercepat pembangunan SPPG di 3T dilatarbelakangi tingginya prevalensi stunting di wilayah tersebut. Dengan memangkas waktu penyelesaian dari satu bulan menjadi satu minggu, pemerintah berharap masyarakat di daerah dengan kerawanan gizi akut segera merasakan manfaat MBG. Ini merupakan perubahan signifikan dari perencanaan awal, menunjukkan urgensi yang dirasakan pemerintah dalam menangani masalah gizi kronis.
Selain percepatan fisik, BGN juga memperkuat tata kelola program melalui integrasi data lintas kementerian. Data dari Kementerian Kesehatan dipetakan bersama data kesiapan dapur untuk menentukan prioritas. "Dari data ini kita overlay dengan data Kementerian Kesehatan, mana yang menjadi prioritas, yang angka stuntingnya tinggi dan sangat tinggi, kemudian kita petakan dengan data dapur yang sudah siap," jelas Sudaryono. Hasil pemetaan ini akan diumumkan secara bertahap dalam pekan mendatang.
Sudaryono juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai pihak-pihak yang mengaku bisa membantu mempercepat pembukaan SPPG. "Saya pastikan seluruh proses dilakukan melalui sistem. Tidak ada pihak yang dapat menjanjikan atau membantu pembukaan SPPG di luar mekanisme resmi," tegasnya. Pernyataan ini menjadi penting di tengah maraknya praktik percaloan dalam program pemerintah.
Bagi Indonesia, percepatan ini bukan hanya soal logistik, tetapi juga menyangkut masa depan sumber daya manusia. Stunting yang tidak ditangani serius akan berdampak pada kualitas generasi mendatang, produktivitas ekonomi, dan daya saing bangsa. Dengan memprioritaskan wilayah 3T, pemerintah menunjukkan komitmennya untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Namun, tantangan di lapangan tetap besar. Kondisi geografis yang sulit, keterbatasan infrastruktur, dan mobilitas tenaga kesehatan menjadi ujian nyata bagi realisasi target satu minggu. Pertanyaannya, mampukah BGN menjaga ritme percepatan ini tanpa mengorbankan kualitas layanan? Keberhasilan program ini akan menjadi barometer efektivitas tata kelola MBG secara keseluruhan.



