Fenomena 'Lipstick Effect' Menguat di Tengah Tekanan Ekonomi: Konsumen Indonesia Beralih ke Kesenangan Instan
Baca dalam 60 detik
- Penjualan tiket konser BTS dan EXO di Jakarta ludes dalam hitungan menit, sementara data e-commerce mencatat lonjakan belanja fashion dan elektronik hingga enam kali lipat.
- Ekonom menilai perilaku ini sebagai 'lipstick effect', di mana masyarakat mengurangi pembelian besar seperti properti dan kendaraan, namun tetap membelanjakan uang untuk hiburan dan barang tersier.
- Pertumbuhan layanan 'Buy Now Pay Later' (BNPL) yang mencapai 37% tahunan menjadi alarm risiko utang konsumtif di tengah pelemahan daya beli kelas menengah.

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan indeks saham hampir 30 persen, masyarakat Indonesia justru menunjukkan geliat belanja yang kontras: konser K-Pop sold out dalam hitungan menit, mal tetap ramai, dan platform e-commerce mencatat kenaikan transaksi hingga 52 persen. Fenomena ini, menurut para ekonom, merupakan manifestasi nyata dari 'lipstick effect'โkecenderungan konsumen tetap membelanjakan uang untuk kemewahan kecil ketika ekonomi sedang tidak pasti.
Pada pertengahan Juni lalu, antrean daring untuk tiket prajual BTS World Tour ARIRANG di Jakarta mencapai lebih dari 960.000 orang, sementara tiket umum untuk dua konser pertama ludes dalam sepuluh menit. Hal serupa terjadi pada konser EXO pada April, yang tiketnya habis kurang dari satu jam dengan antrean 180.000 orang. Di luar panggung musik, data Lazada menunjukkan belanja rata-rata pelanggan selama kampanye 6.6 Super WOW Sale melonjak 52 persen dibanding tahun lalu, dengan penjualan fashion naik enam kali lipat dan elektronik empat kali lipat dibanding hari biasa.
Namun, di balik keriuhan itu, terdapat ironi. Ekonom Bhima Yudhistira dari CELIOS mengingatkan bahwa pengeluaran untuk hiburan dan fashion tidak mencerminkan peningkatan pendapatan, melainkan bentuk pelarian dari tekanan ekonomi. "Kelas menengah membelanjakan barang tersier karena kebutuhan primer pun semakin sulit dipenuhi," ujarnya. Ia mencontohkan data penjualan properti residensial primer yang ambles 25,67 persen year-on-year pada kuartal I 2026, sementara penjualan mobil grosir turun 7,2 persen pada 2025. Harga mobil naik 7,5 persen per tahun, tapi pendapatan calon pembeli hanya tumbuh 3 persen.
Fenomena ini juga terlihat dari pergeseran pola liburan. Maulana Yusran, Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), mencatat bahwa pelemahan rupiah mendorong kelas menengah atas untuk berwisata domestik, namun hanya menguntungkan Jawa dan Bali. "Bandara di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua sepi. Hotel dan restoran di luar pusat wisata terpaksa memotong jam kerja karyawan," katanya. Sementara itu, Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengakui bahwa mal tetap ramai karena berfungsi sebagai ruang sosial, bukan semata-mata karena daya beli.
Bhima menekankan bahwa konsumsi yang didorong utang berpotensi menjadi bom waktu. Data OJK menunjukkan kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan mencapai Rp29,3 triliun dengan 31,76 juta akun per April 2026โtumbuh 37,29 persen secara tahunan. "Ini mencerminkan perilaku keuangan yang tidak sehat. Konsumen perlu mengurangi belanja impulsif dan tidak tergiur promosi pinjaman," imbaunya. Ia memperkirakan fenomena ini akan mereda ketika ekonomi membaik dan masyarakat kembali percaya diri mengejar tujuan finansial jangka panjang, seperti membeli rumah atau kendaraan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah keramaian di pusat perbelanjaan dan antrean tiket konser benar-benar menandakan ekonomi Indonesia kuat, atau justru menjadi kamuflase atas kerapuhan daya beli yang semakin dalam? Para pembuat kebijakan, menurut Bhima, tidak boleh terjebak pada angka permukaan dan perlu menggali lebih kritis motif di balik perilaku belanja masyarakat.



