Rupiah Akhirnya Menguat Setelah Merah Empat Hari, Dolar Mulai Loyo
Baca dalam 60 detik
- Rupiah ditutup menguat 0,06% ke Rp17.915/US$ pada Kamis (25/6), memutus tren negatif empat hari beruntun.
- Pelemahan tipis indeks dolar AS (DXY) ke 101,58 memberi ruang bagi rupiah untuk berbalik arah meski tekanan global masih tinggi.
- Pelaku pasar menanti data inflasi PCE AS yang bisa mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed, sementara BI terus menjaga stabilitas rupiah.

Setelah terpuruk selama empat hari beruntun, rupiah akhirnya berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat tipis terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp17.915 per dolar AS, menguat 0,06% dari posisi sebelumnya, menurut data Refinitif.
Penguatan ini menjadi secercah harapan di tengah dominasi dolar AS yang masih kuat di pasar global. Sepanjang hari, rupiah sempat dibuka melemah dan bergerak dalam rentang Rp17.910 hingga Rp17.970 per dolar AS. Namun, tekanan jual terhadap greenback pada sore hari memberi momentum bagi rupiah untuk bangkit.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat melemah tipis 0,03% ke level 101,581 pada pukul 15.00 WIB. Meski penurunan ini kecil, cukup untuk memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bernapas. Sehari sebelumnya, DXY sempat menembus level tertinggi dalam 13 bulan di 101,8, didorong oleh ekspektasi ekonomi AS yang masih solid dan potensi suku bunga tinggi lebih lama.
Kendati rupiah menguat, tekanan terhadap nilai tukar masih membayangi. Kekuatan dolar AS yang bertahan di level tinggi membuat ruang apresiasi rupiah terbatas. Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi Amerika Serikat, yaitu Personal Consumption Expenditures Price Index (PCE), yang menjadi acuan utama The Federal Reserve dalam menentukan suku bunga. Jika PCE menunjukkan inflasi yang masih tinggi, The Fed bisa kembali menaikkan suku bunga, yang berpotensi memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih dalam.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menstabilkan rupiah melalui berbagai kebijakan. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilitas rupiah bukan hanya tugas BI, melainkan membutuhkan partisipasi seluruh masyarakat. "Rupiah itu kan mata uang kita bersama, jadi tentunya untuk menjaga stabilitas rupiah itu enggak bisa hanya BI sendiri," ujarnya dalam Economic Update CNBC Indonesia 2026.
BI baru-baru ini menurunkan batas maksimal pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Destry menekankan kebijakan ini bertujuan memperbaiki tata kelola, bukan melarang penggunaan dolar AS. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah dengan mengendalikan permintaan valas yang tidak produktif.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada data PCE AS dan sikap The Fed. Jika inflasi AS mereda, dolar bisa melemah dan memberi ruang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut. Namun, jika tekanan global masih tinggi, BI harus siap dengan intervensi pasar dan instrumen kebijakan lainnya. Pertanyaannya, akankah penguatan hari ini menjadi awal tren positif, atau hanya sekadar jeda sebelum tekanan kembali?



