Hamzah Zainudin Kembali Duduki Kursi Pemimpin Oposisi, Muhyiddin Tergusur dari Bangku Depan
Baca dalam 60 detik
- Ketua Dewan Rakyat mengesahkan Hamzah Zainudin sebagai Pemimpin Oposisi efektif 18 Juni, menggantikan Ahmad Samsuri yang hanya menjabat tiga pekan.
- Muhyiddin Yassin, mantan ketua Perikatan Nasional, dipindahkan ke Blok E dalam penataan ulang kursi parlemen, menandai pergeseran posisi politik internal.
- Perombakan ini terjadi di tengah persiapan sidang parlemen selama 16 hari, mengindikasikan dinamika koalisi oposisi yang terus berubah.

Ketua Dewan Rakyat, Tan Sri Johari Abdul, secara resmi mengumumkan pengembalian Datuk Seri Hamzah Zainudin sebagai Pemimpin Oposisi, efektif 18 Juni 2026. Keputusan ini mengakhiri masa jabatan singkat Datuk Seri Dr Ahmad Samsuri Mokhtar yang hanya bertahan tiga pekan di posisi tersebut. Pengumuman itu disampaikan Johari pada Senin (22/6) di awal sidang Dewan Rakyat, sekaligus mengonfirmasi perubahan susunan tempat duduk di blok oposisi.
Dalam pernyataannya, Johari merinci kronologi kepemimpinan oposisi: Hamzah (Larut) menjabat hingga 20 Mei, kemudian digantikan Ahmad Samsuri (Kemaman) dari 21 Mei hingga 10 Juni, dan kini Hamzah kembali memimpin mulai 18 Juni. Johari berterima kasih kepada Ahmad Samsuri atas pengabdiannya dan menyambut kembali Hamzah. Perubahan ini terjadi di tengah perombakan lebih luas dalam koalisi Perikatan Nasional, yang juga memengaruhi penempatan kursi anggota parlemen.
Berdasarkan denah tempat duduk terbaru yang diterbitkan situs resmi parlemen, Tan Sri Muhyiddin Yassin, presiden Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) dan mantan ketua Perikatan, dipindahkan ke Blok E. Sebelumnya, Muhyiddin duduk di bangku depan blok oposisi, tepat di samping Pemimpin Oposisi. Langkah ini menimbulkan spekulasi tentang dinamika internal Perikatan, terutama setelah Muhyiddin melepas jabatan ketua koalisi kepada Ahmad Samsuri.
Posisi Hamzah sendiri tidak berubah: ia tetap duduk di baris depan blok oposisi, kini bersebelahan dengan Ahmad Samsuri yang menjabat sebagai ketua Perikatan Nasional. Penataan ulang ini mencerminkan upaya Perikatan untuk merapikan barisan menjelang sidang parlemen yang berlangsung 16 hari, mulai 22 Juni hingga 16 Juli. Meski demikian, pergeseran Muhyiddin dari kursi strategis menimbulkan pertanyaan tentang pengaruh politiknya di dalam koalisi.
Bagi pengamat politik Malaysia, langkah ini menandakan konsolidasi kekuasaan di bawah kepemimpinan baru Perikatan. Ahmad Samsuri, yang juga Menteri Besar Terengganu, kini memegang kendali koalisi, sementara Muhyiddin—meski masih presiden partai—mulai tersisih dari posisi sentral. Situasi ini mengingatkan pada dinamika serupa di Indonesia, di mana perombakan kursi parlemen sering menjadi indikator perubahan peta kekuatan politik. Ke depan, publik akan menyaksikan apakah koalisi oposisi mampu bersatu dalam menghadapi agenda pemerintah, atau justru terpecah oleh rivalitas internal.



