Pabrik Terbakar, DPUM Pastikan Produksi Tak Terganggu: Ekspor Ditargetkan Pulih Juli
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran melanda pabrik PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) di Pati, Jawa Tengah, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
- Manajemen DPUM mengklaim operasional pabrik 1 tetap normal dan pabrik 2 diperbaiki dalam tiga bulan, sementara ekspor ditargetkan pulih pertengahan Juli 2026.
- Saham DPUM sempat merosot 14,67% pasca-insiden, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak finansial jangka pendek.

PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM), emiten pengolahan hasil laut, angkat bicara terkait kebakaran yang melanda salah satu pabriknya di Pati, Jawa Tengah. Manajemen memastikan bahwa insiden tersebut tidak mengganggu operasional utama perusahaan dan target pemulihan ekspor sudah di depan mata.
Komisaris Utama DPUM, Sherley, dalam keterangan tertulis yang dirilis Senin (22/6/2026), menyatakan bahwa perseroan telah bergerak cepat untuk meminimalkan dampak. Pabrik 1 yang tidak terdampak kebakaran tetap beroperasi penuh dan menjadi andalan produksi untuk memenuhi permintaan pelanggan. Sementara itu, Pabrik 2 tengah menjalani perbaikan ringan sembari menunggu kedatangan mesin baru, dengan target operasi bertahap dalam tiga bulan ke depan.
Kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu sempat menjadi sorotan publik dan memicu kekhawatiran investor. Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2026, DPUM menegaskan tidak ada korban jiwa atau luka serius, dan api telah berhasil dipadamkan. Perusahaan optimistis insiden ini tidak menyebabkan gangguan material terhadap kinerja keuangan dan operasional.
Di sisi lain, proses pemulihan Pabrik 3 dan fasilitas penunjang yang terdampak juga tengah berlangsung. DPUM menargetkan kegiatan ekspor dapat kembali berjalan pada pertengahan Juli 2026. Langkah ini krusial mengingat sebagian besar pendapatan perseroan berasal dari pasar internasional. Sherley menambahkan, apresiasi diberikan kepada pelanggan dan mitra bisnis yang terus mendukung, menjadi motivasi untuk bangkit lebih kuat.
Bagi investor dan pelaku pasar, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa DPUM berupaya menjaga kepercayaan di tengah tekanan. Penurunan harga saham yang signifikan pasca-insiden menunjukkan sentimen negatif jangka pendek, namun prospek pemulihan ekspor dan operasional pabrik menjadi katalis potensial. Pertanyaan yang mengemuka: akankah target tiga bulan untuk Pabrik 2 dan Juli untuk ekspor tercapai tepat waktu, atau ada kendala teknis yang belum terungkap?



