Buah Atemoya Taiwan: Senjata Ekonomi Baru Beijing yang Bikin Petani Waswas
Baca dalam 60 detik
- China berencana meningkatkan impor atemoya Taiwan, namun Kementerian Pertanian Taiwan menilai langkah itu sebagai jebakan untuk mengendalikan petani.
- Sejak 2021, Beijing telah beberapa kali memblokir atau membatasi impor buah Taiwan, seperti nanas dan atemoya, yang memicu kekhawatiran akan ketergantungan ekonomi.
- Pemerintah Taiwan mendorong diversifikasi olahan atemoya, sementara oposisi menuduh penguasa mempolitisasi industri buah tersebut.

Buah atemoya, persilangan sirsak dan markisa dengan daging putih lembut dan kulit hijau bersisik, kembali menjadi pusaran ketegangan antara China dan Taiwan. Beijing baru-baru ini berjanji menambah pembelian atemoya asal Taiwan, namun Taipei justru memperingatkan petani untuk tidak terjebak dalam skema yang disebutnya sebagai strategi "raise, trap, kill".
Kementerian Pertanian Taiwan dalam pernyataan akhir pekan lalu menuding China sengaja menciptakan ketergantungan ekonomi sebelum kemudian menarik dukungan secara sepihak. Pola ini, menurut kementerian, sudah terbukti ketika Beijing melarang impor nanas Taiwan pada 2021, yang menyebabkan kerugian besar bagi petani setempat. Kini, atemoya menjadi sasaran berikutnya.
China memang telah lama mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tak segan menggunakan tekanan non-militer, termasuk lewat komoditas pertanian. Pada 2021, Beijing menghentikan impor atemoya dengan alasan hama, lalu mengizinkannya kembali sebagian pada 2023, dan tahun lalu mengenakan tarif tambahan. Langkah-langkah ini, menurut Kementerian Pertanian Taiwan, membuat industri buah itu sangat tidak stabil dan petani menanggung risiko besar.
Kekhawatiran ini mengemuka setelah forum bisnis di Xiamen, China, awal bulan ini, di mana perusahaan-perusahaan China berkomitmen membeli lebih banyak atemoya, ikan, dan teh asal Taiwan. Forum itu dihadiri oleh pengusaha dan politisi oposisi Taiwan, meskipun pemerintah pusat Taiwan melarang partisipasi resmi. Dewan Urusan Daratan Taiwan pun mengancam akan menyelidiki pejabat yang hadir.
Di tengah peringatan keras dari pemerintah, sejumlah politisi oposisi dari Kuomintang justru mengecam langkah tersebut sebagai politisasi industri atemoya yang justru merugikan petani. Wali Kota Taipei, Chiang Wan-an, bahkan menyebut atemoya sebagai "TSMC-nya dunia buah", merujuk pada keunggulan semikonduktor Taiwan. "Tidak ada negara di dunia yang bisa menghasilkan buah seenak dan sespesial atemoya Taiwan," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok pertanian terhadap tekanan geopolitik. Meski Indonesia bukan eksportir atemoya, pola ketergantungan pasar tunggal seperti yang dialami Taiwan bisa menjadi pelajaran. Diversifikasi pasar dan pengolahan produk menjadi kunci untuk mengurangi risiko, sebagaimana yang kini coba dilakukan Taiwan dengan mengembangkan produk olahan atemoya seperti buah beku, pure, dan anggur.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah petani Taiwan akan kembali terjebak dalam siklus "raise, trap, kill", tetapi juga bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia, bisa belajar dari kasus ini untuk membangun ketahanan pangan yang tidak mudah diguncang kepentingan politik.



