150 Produk Riset BRIN Dipamerkan ke Prabowo: Peta Jalan Menuju Kemandirian Teknologi Nasional
Baca dalam 60 detik
- BRIN memamerkan 150โ200 produk inovasi dari 12 klaster riset kepada Presiden Prabowo, menandai langkah konkret integrasi riset ke prioritas nasional.
- Pameran ini menyoroti fokus pada pangan, energi, dan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis, menegaskan arah riset yang aplikatif.
- Kunjungan presiden membuka peluang peningkatan anggaran riset dan komersialisasi produk, namun tantangan hilirisasi masih menjadi pekerjaan rumah.

Sebanyak 150 hingga 200 produk inovasi dari 12 klaster riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dipamerkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis. Langkah ini bukan sekadar pameran, melainkan sinyal kuat bahwa pemerintah menempatkan riset sebagai tulang punggung kemandirian teknologi nasional di tengah tekanan global.
Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa seluruh produk yang ditampilkan telah melewati proses kurasi ketat dan mewakili bidang-bidang strategis yang selama ini dikembangkan lembaganya. "Produk kita ada sekitar 12 klaster, setelah dikurasi di atas 150, 150 sampai 200 produk," ujarnya. Ia menambahkan, Presiden tidak hanya mendengarkan paparan hasil riset, tetapi juga meninjau langsung produk-produk tersebut dan berdialog dengan para peneliti.
Pameran ini mencakup spektrum luas inovasi: dari pangan, energi, kesehatan, transportasi, perumahan, hingga antariksa, penerbangan, nuklir, dan logam tanah jarang. Yang menarik, beberapa produk dirancang khusus untuk mendukung program unggulan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan kampung nelayan. Ini menunjukkan bahwa riset BRIN tidak lagi berada di menara gading, melainkan diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi Indonesia, momen ini memiliki arti strategis. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemampuan menguasai teknologi menjadi pembeda utama. Arif menyadari bahwa tidak semua hasil riset dapat dibawa ke Istana karena sebagian berada di daerah dan sebagian lainnya berukuran besar. Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah inovasi yang ditampilkan masih dalam tahap penyempurnaan dan memiliki prospek untuk dikembangkan lebih luas.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Presiden secara khusus mengundang para peneliti BRIN untuk memaparkan hasil riset yang mendukung program prioritas pemerintah, terutama di bidang pangan dan energi. Hal ini menggarisbawahi bahwa pemerintah tidak hanya ingin melihat produk, tetapi juga mendengar langsung dari para ilmuwan tentang peluang dan tantangan pengembangannya.
Langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya membangun ekosistem riset yang lebih aplikatif. Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana kelanjutan setelah pameran usai. Akankah ada komitmen anggaran yang lebih besar untuk riset? Bagaimana mekanisme hilirisasi dan komersialisasi produk-produk tersebut agar tidak berhenti sebagai prototipe? Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa banyak riset di Indonesia yang mandek di tahap laboratorium karena kurangnya dukungan pendanaan dan koneksi dengan industri.
Ke depan, publik menantikan langkah konkret pemerintah, misalnya dalam bentuk kebijakan yang mempermudah kolaborasi antara peneliti, industri, dan investor. Jika dikelola dengan baik, pameran ini bisa menjadi titik balik bagi kebangkitan riset nasional. Namun, jika hanya berhenti sebagai seremoni, maka potensi besar yang dimiliki BRIN akan kembali menguap. Pertanyaannya, apakah Prabowo akan mengambil langkah berani untuk memastikan riset menjadi prioritas politik yang nyata, bukan sekadar wacana?



