Di Balik Kemeriahan HUT ke-61 Singapura: Relawan yang Menyulap Bendera dan Parade Jadi Identitas Bangsa
Baca dalam 60 detik
- Warga Toa Payoh telah membangun instalasi bendera raksasa bertuliskan '61' setiap tahun sejak 2015, menjadi ikon informal kawasan.
- Relawan NDP, termasuk mantan warga negara yang baru dinaturalisasi, menjalani latihan intensif berbulan-bulan demi memeriahkan perayaan.
- Semangat gotong royong dan kebanggaan nasional menjadi daya tarik utama yang menggerakkan ribuan relawan di berbagai peran.

Setiap tahun, warga Singapura menyambut hari kemerdekaannya dengan berbagai cara, namun di Toa Payoh Lorong 1, perayaan itu menjelma menjadi instalasi bendera raksasa yang membentang di antara dua blok HDB. Angka '61' berwarna merah menyala itu bukan sekadar dekorasi, melainkan hasil kerja keras puluhan relawan yang telah mengulang tradisi ini sejak 2015. Di balik kemegahan parade nasional di Stadion Nasional, ada ribuan orang yang bekerja tanpa pamrih, dari pemasang bendera hingga pengatur sorak penonton.
Inisiatif ini dipimpin oleh Ong Kok Chee, ketua Jaringan Warga Toa Payoh North Zone 2 yang berusia 64 tahun. Baginya, instalasi ini telah menjadi landmark yang membanggakan. "Banyak warga yang berfoto untuk dibagikan ke teman-teman mereka, bahkan ada lansia yang minta diantar taksi pulang ke 'rumah angka besar'," ujarnya. Persiapan dimulai sejak Februari, dengan sukarelawan merakit panel-panel bendera secara terpisah sebelum disatukan. Pada hari pemasangan, koordinasi antar lantai menjadi krusial untuk memastikan setiap bendera terpasang dengan tegangan dan kesejajaran yang sempurna.
Selama satu dekade, tim ini terus belajar dari pengalaman, terutama dalam menghadapi angin kencang dan hujan deras. Tahun ini, mereka berbagi pengetahuan dengan lingkungan lain di Toa Payoh agar dapat membuat instalasi serupa. Di sisi lain, persiapan Parade Hari Nasional (NDP) di Stadion Nasional juga melibatkan relawan dengan peran yang lebih beragam. Madeline Chan, 34 tahun, adalah satu-satunya sukarelawan yang tampil bersama Band Militer Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) melalui Korps Relawan SAF. Berasal dari latar belakang band simfoni, ia harus beradaptasi dengan latihan baris-berbaris militer sambil tetap memainkan alat musik tiupnya. "Di band simfoni, kami tidak perlu baris-berbaris. Kami cukup duduk dan bermain. Butuh waktu untuk terbiasa berbaris sambil bermain musik," ungkapnya.
Di tribun penonton, Celeste Kan, mahasiswa politeknik tahun kedua, adalah salah satu dari ratusan motivator NDP yang bertugas menjaga semangat penonton. Mereka memimpin sorakan, mengajarkan koreografi, dan mendorong partisipasi penonton. "Saat melihat penonton tersenyum dan bernyanyi dengan lantang, energinya datang secara alami," kata Kan, yang kembali menjadi motivator untuk tahun kedua. Organisasi TOUCH, yang menaungi para motivator ini, telah melatih lebih dari 10.000 pemuda sejak 2000.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks Indonesia yang juga memiliki tradisi gotong royong dalam menyambut hari kemerdekaan. Di berbagai daerah, warga kerap memasang bendera merah putih di sepanjang jalan, namun jarang yang sampai membentuk instalasi besar seperti di Singapura. Semangat kebersamaan yang ditunjukkan relawan Singapura bisa menjadi inspirasi bagi warga Indonesia untuk lebih kreatif dalam mengekspresikan rasa nasionalisme. Selain itu, peran relawan seperti Madeline Chan yang baru menjadi warga negara menunjukkan bahwa integrasi sosial dapat diperkuat melalui partisipasi dalam kegiatan nasional.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah tradisi ini akan terus berlanjut dan berkembang seiring regenerasi warga. Dengan semakin banyaknya warga yang terlibat, baik sebagai pemasang bendera maupun motivator, semangat kebangsaan ini tampaknya akan terus diwariskan. Namun, tantangan seperti cuaca ekstrem dan biaya logistik mungkin menjadi kendala. Apakah warga Singapura akan tetap antusias merayakan kemerdekaan dengan cara yang sama di tahun-tahun mendatang? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, semangat gotong royong yang ditunjukkan para relawan ini adalah fondasi yang kuat untuk menjaga identitas bangsa.



