Ambang Batas Suhu 27,1 Derajat Celsius: Risiko Kematian Akibat Sengatan Panas Meningkat Drastis
Baca dalam 60 detik
- Studi Universitas Tokyo menemukan bahwa suhu harian di atas 27,1°C secara signifikan meningkatkan risiko kematian akibat heatstroke, berdasarkan analisis 1.447 kasus di Tokyo.
- Pada suhu di atas 33°C, individu tanpa pendingin ruangan menghadapi risiko kematian tiga kali lipat lebih tinggi; risiko melonjak hingga tujuh kali lipat pada suhu 36°C.
- Temuan ini menjadi peringatan bagi Indonesia, di mana suhu ekstrem kerap terjadi dan akses terhadap pendingin ruangan masih terbatas di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Riset terbaru dari Universitas Tokyo mengungkapkan bahwa ambang batas suhu yang memicu kematian akibat sengatan panas ternyata lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Tim peneliti dari Graduate School of Medicine bersama Kantor Pemeriksa Medis Tokyo menemukan bahwa ketika suhu harian maksimum menembus angka 27,1 derajat Celsius, risiko kematian akibat heatstroke mulai melonjak tajam. Temuan ini menjadi alarm serius, terutama bagi negara tropis seperti Indonesia yang kerap dilanda gelombang panas.
Penelitian yang dipublikasikan pada 19 Juni 2025 itu menganalisis 1.447 kasus kematian akibat heatstroke yang tercatat di 23 distrik Tokyo antara 2013 hingga 2023. Data yang dikumpulkan mencakup kondisi cuaca saat korban ditemukan, ketersediaan pendingin ruangan (AC), serta hasil otopsi. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko fatal meningkat secara eksponensial seiring kenaikan suhu, dengan titik kritis pada 27,1°C.
Lebih mengkhawatirkan lagi, studi tersebut menemukan bahwa pada suhu di atas 33°C, orang yang tidak menggunakan AC menghadapi risiko kematian lebih dari tiga kali lipat dibandingkan mereka yang menggunakan AC. Pada suhu 36°C, risikonya melonjak hingga tujuh kali lipat. "Begitu suhu melampaui 27,1°C, risiko kematian meningkat drastis. Jika Anda merasa tidak enak badan, gunakan AC, jaga hidrasi, dan segera cari pertolongan medis jika kondisi tidak membaik," ujar tim peneliti dalam pernyataannya.
Implikasi dari temuan ini sangat relevan bagi Indonesia. Sebagai negara beriklim tropis, suhu harian di banyak wilayah Indonesia kerap berada di atas 30°C, terutama saat musim kemarau. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu maksimum di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar sering melampaui 33°C. Namun, akses terhadap pendingin ruangan masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat berpenghasilan rendah. Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, hanya sekitar 12% rumah tangga di Indonesia yang memiliki AC. Artinya, sebagian besar penduduk rentan terhadap risiko heatstroke ketika suhu ekstrem melanda.
Para ahli kesehatan masyarakat di Indonesia pun angkat bicara. "Studi ini menegaskan bahwa heatstroke bukan sekadar masalah ketidaknyamanan, tetapi ancaman nyata yang bisa berakibat fatal. Pemerintah perlu segera menyusun strategi adaptasi, seperti menyediakan pusat pendingin umum di daerah padat penduduk dan mengkampanyekan perilaku hidup sehat saat cuaca panas," ujar Dr. Andi Kurniawan, epidemiolog dari Universitas Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya sistem peringatan dini gelombang panas yang terintegrasi dengan layanan kesehatan.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: seberapa siap Indonesia menghadapi ancaman heatstroke yang kian nyata akibat perubahan iklim? Dengan suhu global yang terus meningkat, ambang batas 27,1°C mungkin akan semakin sering terlampaui. Tanpa langkah mitigasi yang terukur, angka kematian akibat sengatan panas diprediksi akan terus bertambah. Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, bukan hanya mengandalkan kipas angin atau minum air putih, tetapi juga memastikan akses terhadap pendingin ruangan dan edukasi publik yang memadai.



