Zelenskyy Kembalikan Penghargaan Polandia, Retakan Hubungan Kedua Negara Makin Lebar
Baca dalam 60 detik
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengembalikan Order of the White Eagle setelah dicabut sepihak oleh Presiden Polandia Karol Nawrocki, memicu krisis diplomatik antara dua sekutu.
- Perselisihan dipicu keputusan Kyiv menamai unit militer dengan nama Ukrainian Insurgent Army (UPA), yang terlibat pembantaian warga Polandia pada Perang Dunia II, dinilai merusak rekonsiliasi.
- Rusia memanfaatkan ketegangan ini untuk memperkuat narasi propaganda perangnya, sementara Polandia tetap menjadi mitra penting Ukraina dalam menghadapi invasi Moskow.

Ketegangan diplomatik antara Ukraina dan Polandia mencapai titik nadir setelah Presiden Volodymyr Zelenskyy secara simbolis mengembalikan penghargaan tertinggi Polandia, Order of the White Eagle, yang sebelumnya dicabut oleh Presiden Polandia Karol Nawrocki. Langkah ini memicu aksi serupa dari sejumlah pejabat tinggi Ukraina, memperlihatkan keretakan serius di antara dua negara yang selama ini bersatu melawan agresi Rusia.
Krisis bermula ketika Zelenskyy pada awal Juni menandatangani dekrit yang menamai sebuah unit militer dengan nama Ukrainian Insurgent Army (UPA), organisasi nasionalis yang pada Perang Dunia II terlibat dalam pembantaian puluhan ribu warga sipil Polandia di wilayah Volhynia. Bagi Polandia, tindakan itu dianggap sebagai pengagungan terhadap kelompok yang bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan, sehingga Nawrocki—presiden beraliran keras—mencabut penghargaan yang diberikan pendahulunya kepada Zelenskyy pada 2023.
Zelenskyy menegaskan bahwa penghargaan itu sejatinya diberikan untuk rakyat Ukraina dan tentaranya, bukan untuk dirinya pribadi. Dalam unggahan di media sosial, ia memperlihatkan foto kotak berisi medali yang dikirim dari kantor pos biasa ke kanselir presiden Polandia. "Ukraina berterima kasih kepada rakyat Polandia atas dukungan dan kerja samanya," tulisnya, seraya menekankan bahwa pengembalian ini bukan bentuk permusuhan terhadap warga Polandia.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga, yang lebih dulu mengembalikan penghargaannya dari Polandia, menyebut keputusan Nawrocki sebagai "tidak adil, impulsif, dan tidak menghormati". Kepala staf kepresidenan Kyrylo Budanov serta Duta Besar Ukraina untuk Warsawa Vasyl Bodnar mengikuti langkah serupa, dengan Budanov menegaskan bahwa tindakan Polandia justru menjadi "hadiah bagi agresor Moskow" yang akan dimanfaatkan untuk memecah belah kedua negara.
Di sisi lain, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk—yang berada dalam ketegangan politik dengan Nawrocki—mengakui bahwa langkah Zelenskyy menamai unit militer dengan UPA memang problematik. Namun, ia mengungkapkan bahwa Zelenskyy telah meyakinkannya secara pribadi bahwa tidak ada niat untuk menyinggung Polandia. Tusk menyerukan agar kedua bangsa tidak membiarkan sejarah menghancurkan masa depan bersama, terutama di saat solidaritas sangat dibutuhkan melawan ancaman Rusia.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat betapa rentannya hubungan bilateral yang dibangun di atas trauma sejarah. Di kawasan Asia Tenggara, isu serupa kerap muncul ketika negara-negara tetangga masih menyimpan luka masa lalu, seperti kasus sengketa sejarah antara Indonesia dan Malaysia atau Kamboja dan Vietnam. Ketegangan Ukraina-Polandia menunjukkan bahwa tanpa rekonsiliasi yang tulus, aliansi strategis sekalipun bisa goyah oleh sentimen nasionalis.
Rusia, yang sejak awal perang menggunakan narasi "denazifikasi" untuk membenarkan invasi, langsung memanfaatkan situasi ini. Mantan Presiden Dmitry Medvedev, yang kini menjabat wakil ketua Dewan Keamanan Rusia, menyambut pencabutan penghargaan tersebut sebagai pembenaran atas klaim bahwa Ukraina masih dikuasai oleh ideologi nasionalis ekstrem. Propaganda ini berpotensi menggerus dukungan internasional terhadap Kyiv, terutama di negara-negara yang masih sensitif terhadap isu neo-Nazi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Polandia dan Ukraina mampu memisahkan sejarah kelam dari kebutuhan geopolitik saat ini. Dengan perang yang masih berkecamuk dan ketergantungan Ukraina pada bantuan Barat, retakan ini bisa menjadi celah yang dimanfaatkan Rusia untuk semakin mengisolasi Kyiv. Akankah kedua negara menemukan jalan untuk kembali bersatu, atau justru sejarah kembali mengulangi tragedi perpecahan?



