Mahasiswa Myanmar Belajar Industri Kapal di Jepang: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- 30 mahasiswa dari Imabari Meitoku Junior College, termasuk 20 dari Myanmar, mengunjungi galangan kapal Imabari Shipbuilding pada 18 Juni untuk mempelajari industri maritim terdepan.
- Imabari Shipbuilding Group menguasai 51,5% pasar kapal domestik Jepang dan 7,2% global, serta tengah beralih ke kapal berbahan bakar alternatif ramah lingkungan.
- Kunjungan ini menjadi model potensial bagi Indonesia untuk memperkuat pendidikan vokasi maritim dan transfer teknologi kapal hijau.

Sebanyak 30 mahasiswa dari Imabari Meitoku Junior College, termasuk 20 peserta program pertukaran dari Myanmar, mengunjungi galangan kapal Imabari Shipbuilding di Prefektur Ehime pada 18 Juni lalu. Kunjungan ini bukan sekadar wisata industri, melainkan bagian dari kuliah lapangan mata kuliah revitalisasi regional yang bertujuan memperkenalkan teknologi maritim terkini kepada generasi muda.
Imabari Shipbuilding Group, perusahaan pembuatan kapal terbesar di Jepang, menyumbang sekitar 51,5% produksi kapal domestik dan 7,2% pangsa pasar global. Dalam presentasi video, para mahasiswa mendapat gambaran tentang dominasi industri ini serta tantangan lingkungan yang dihadapi. Perusahaan tengah mempercepat transisi ke kapal berbahan bakar alternatif—menggantikan minyak berat dengan gas alam cair (LNG), amonia, dan hidrogen—untuk menekan emisi karbon dioksida dari sektor pelayaran.
Di area galangan, para mahasiswa menyaksikan langsung proses perakitan kapal kargo berkapasitas 40.000 ton, di mana material baja raksasa dibawa blok demi blok untuk kemudian disatukan. Pengalaman ini memberikan perspektif nyata tentang skala dan kompleksitas industri berat yang jarang terlihat di ruang kelas.
Salah satu peserta, Ei Ei Maung, mahasiswi asal Myanmar yang mengambil jurusan bisnis pariwisata internasional, mengaku takjub dengan teknologi yang dilihatnya. “Semua yang saya lihat terasa baru dan menakjubkan. Saya ingin menceritakannya kepada keluarga di Myanmar,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan betapa besarnya kesenjangan pengalaman antara pendidikan di negara berkembang dengan praktik industri di negara maju.
Bagi Indonesia, kunjungan serupa bisa menjadi inspirasi. Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengembangan industri perkapalan nasional. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan pangsa pasar galangan kapal Indonesia baru sekitar 1% global, jauh di bawah Jepang. Program revitalisasi daerah seperti yang dilakukan Imabari Meitoku Junior College bisa diadaptasi untuk memperkuat pendidikan vokasi maritim di Indonesia, terutama dalam menghadapi transisi ke kapal ramah lingkungan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: mampukah Indonesia meniru langkah Jepang dalam menghubungkan institusi pendidikan dengan industri berat, sekaligus mempersiapkan tenaga kerja yang siap menghadapi era kapal berbahan bakar alternatif? Tanpa terobosan serius dalam pendidikan vokasi dan transfer teknologi, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan industri maritim global yang semakin hijau.



