Pasar Asia Melemah, Minyak Menguat: Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal The Fed Membayangi
Baca dalam 60 detik
- Bursa Asia mayoritas turun pada awal pekan, dipicu keraguan proses perdamaian Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi.
- Kenaikan harga minyak mentah Brent dan WTI memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat, dengan probabilitas 75% untuk kenaikan pada September.
- Ketidakpastian politik di Inggris dan ancaman Iran menutup Selat Hormuz menambah tekanan pada pasar global, berpotensi mempengaruhi harga energi dan stabilitas ekonomi Indonesia.

Pasar saham Asia-Pasifik dibuka dengan tekanan pada Senin (22/6) di tengah meningkatnya keraguan terhadap proses perdamaian Timur Tengah, yang mendorong harga minyak dan imbal hasil obligasi naik, serta memperkuat spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan segera mengetatkan kebijakan moneternya.
Indeks MSCI untuk Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,4 persen, sementara Nikkei Tokyo justru mencatat kenaikan 0,7 persen setelah pekan lalu melonjak hampir 8 persen ke rekor tertinggi. Pasar Korea Selatan yang sempat panas karena permintaan saham semikonduktor terkoreksi 0,9 persen. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing melemah 0,5 persen dan 0,3 persen, sedangkan FTSE Inggris turun tipis 0,1 persen.
Tekanan terbesar datang dari sektor energi. Brent crude futures naik 1,1 persen menjadi 81,43 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) melonjak 2,7 persen ke 78,70 dolar AS. Kenaikan ini dipicu oleh pengumuman Iran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, dengan jumlah kapal yang melintas menurun drastis dari 32 kapal pada Jumat menjadi hanya 26 kapal pada Sabtu. Meski demikian, harga minyak masih jauh di bawah puncak Mei yang mencapai 126,41 dolar AS untuk Brent.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah AS (Treasury) terus tertekan setelah sikap hawkish The Fed pekan lalu. Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 75 persen pada September, dengan total pengetatan 38 basis poin hingga akhir tahun. Imbal hasil obligasi dua tahun naik 4 basis poin ke level tertinggi sejak awal 2025, yaitu 4,2276 persen.
Analis JPMorgan, Fabio Bassi, mengatakan bahwa pihaknya masih optimistis terhadap aset berisiko karena perbaikan pasar tenaga kerja akan menjaga suku bunga tetap tinggi lebih lama, mendukung kepemimpinan sempit di sektor Quality Growth, Large Cap, dan Teknologi. Namun, ia mengakui risiko kenaikan suku bunga lebih awal semakin nyata. "Kami melihat risiko kenaikan target S&P 500 condong ke 8.000," ujarnya.
Di pasar valuta asing, dolar AS tetap perkasa di 161,44 yen, dengan ancaman intervensi Jepang menjadi satu-satunya penghalang untuk menguji level resistensi 161,96βlevel tertinggi sejak pertengahan 2024. Euro melemah ke 1,1462 dolar AS, sementara sterling terdepresiasi 0,2 persen menjadi 1,3210 dolar AS akibat ketidakpastian politik di Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer dikabarkan mempertimbangkan masa depannya setelah rivalnya, Andy Burnham, memenangkan kursi parlemen secara telak, mendorong sejumlah menteri Partai Buruh untuk memintanya mundur.
Konteks Indonesia: Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi global berpotensi menekan anggaran negara melalui peningkatan subsidi energi dan biaya utang. Di sisi lain, penguatan dolar AS dapat membuat rupiah terdepresiasi lebih lanjut, mengingat Bank Indonesia masih menghadapi tekanan untuk menyesuaikan suku bunga acuan. Pasar saham domestik juga rentan terhadap arus keluar modal asing jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada rilis data inflasi inti AS (PCE) pada Kamis mendatang, yang diperkirakan naik tipis ke 3,4 persen pada Mei. Angka ini akan menjadi sinyal kunci bagi langkah The Fed selanjutnya. Selain itu, perkembangan negosiasi damai Timur Tengah dan respons Iran terhadap tekanan AS akan terus mempengaruhi volatilitas harga minyak. Pertanyaannya, mampukah pasar bertahan di tengah ketidakpastian ganda ini, atau justru koreksi lebih dalam tak terhindarkan?



