Peter Lai, Legenda Lirik Cantopop dan Aktor Hong Kong, Tutup Usia di 76 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Peter Lai, tokoh penting di balik lagu-lagu klasik Cantopop, meninggal dunia setelah berjuang melawan berbagai penyakit.
- Kariernya yang panjang meninggalkan jejak tak terhapuskan di industri musik dan televisi Hong Kong, menginspirasi banyak generasi.
- Kepergiannya menandai berakhirnya era emas Cantopop, sekaligus menjadi pengingat akan rapuhnya kesehatan di usia senja.

Dunia hiburan Hong Kong kembali berduka. Peter Lai, seorang penulis lirik dan aktor yang namanya melekat erat dengan kejayaan musik Cantopop, menghembuskan napas terakhirnya pada usia 76 tahun. Kabar duka ini pertama kali disampaikan oleh sahabat lamanya, komentator olahraga Chung Chi Kwong, dalam sebuah wawancara dengan media lokal, Sing Tao Headline, Rabu (5/8).
Menurut Chung, Lai telah terbaring di tempat tidur sejak menderita stroke pada bulan Maret lalu. Kondisinya terus memburuk dari bulan ke bulan, hingga akhirnya ia mengembuskan napas terakhir. Sebelumnya, pria kelahiran 1949 ini memang telah lama berjuang melawan berbagai masalah kesehatan. Pada tahun lalu saja, ia sempat dirawat di unit perawatan intensif (ICU) karena komplikasi pernapasan akibat flu. Selain itu, ia juga didiagnosis menderita anemia, diabetes, dan gangguan fungsi ginjal. Selama perawatan, ia bahkan memerlukan kateter urin dan dua kali transfusi darah.
Lai bukanlah nama asing di industri kreatif Hong Kong. Ia dikenal sebagai salah satu generasi perintis penulis lirik Cantopop, sejajar dengan nama-nama besar seperti Jim Wong, Jimmy Lo, dan Cheng Kwok Kong. Sepanjang kariernya, ia tak hanya berkolaborasi dengan penyanyi-penulis lagu legendaris Sam Hui, tetapi juga dengan deretan bintang papan atas seperti Anita Mui, Leslie Cheung, dan Alan Tam. Lirik-liriknya yang puitis dan menyentuh telah menjadi bagian dari soundtrack kehidupan banyak orang Hong Kong dan Asia.
Di luar musik, Lai juga sukses meniti karier di dunia akting. Namanya semakin dikenal publik luas lewat perannya sebagai Paman Pau dalam sitkom TVB yang sangat populer, Come Home Love: Lo And Behold. Peran tersebut menjadikannya wajah yang akrab di layar kaca, melengkapi reputasinya sebagai seniman multitalenta.
Kepergian Lai meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi para penggemar musik dan pengamat industri. Ia adalah saksi hidup dan bagian penting dari evolusi Cantopop, genre yang pernah mendominasi industri musik Asia. Karya-karyanya akan terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penulis lirik muda.
Bagi penggemar musik di Indonesia, Cantopop mungkin bukan genre yang asing, mengingat pengaruhnya yang besar di Asia Tenggara pada era 80-an dan 90-an. Lagu-lagu yang liriknya ditulis Lai turut memperkaya khazanah musik populer yang dinikmati lintas generasi. Kepergiannya menjadi pengingat bahwa di balik lagu-lagu hits, ada sosok kreatif yang karyanya melampaui waktu.
Warisan Peter Lai tidak hanya terletak pada jumlah lagu yang ia tulis, tetapi juga pada kualitas emosional yang ia tanamkan dalam setiap bait. Ia mampu merangkai kata-kata menjadi syair yang berbicara tentang cinta, kehidupan, dan kerinduan, yang masih relevan hingga kini. Pertanyaannya, akankah industri musik Hong Kong mampu melahirkan penulis lirik sekaliber dirinya di tengah arus modernisasi dan perubahan selera pasar? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: namanya akan selalu tercatat dalam sejarah musik Asia.



