Les Kiss Pangkas Empat Posisi di Lini Depan Wallabies, Isaac Henry Siap Debut Lawan Jepang
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar Australia, Les Kiss, melakukan empat perubahan di tim inti untuk uji coba melawan Jepang di Osaka, termasuk rotasi besar di lini depan.
- Centre tanpa caps Isaac Henry masuk daftar cadangan, sementara Declan Meredith kembali dipercaya sebagai flyhalf utama.
- Laga ini menjadi ujian awal bagi Kiss dalam membangun skuad baru Australia menjelang musim internasional yang padat.

Pelatih anyar Australia, Les Kiss, langsung tancap gas dengan merombak empat posisi di tim inti Wallabies untuk uji coba melawan Jepang di Osaka, Sabtu (10/8). Dalam laga perdananya sebagai nahkoda, Kiss juga memasukkan centre tanpa caps, Isaac Henry, ke bangku cadangan—sebuah sinyal bahwa ia siap memberi ruang bagi wajah-wajah baru.
Perombakan terbesar terjadi di lini depan. Aidan Ross, yang debut melawan Jepang di Tokyo tahun lalu, akan mengisi posisi loosehead prop, berpasangan dengan hooker Josh Nasser yang kembali dipercaya. Sementara itu, Miles Amatosero—yang baru mencicipi debut internasionalnya bulan lalu saat mengalahkan Italia—menggantikan Jeremy Williams di barisan kedua, mendampingi Josh Canham.
Di sektor belakang, Hunter Paisami masuk ke midfield menggantikan Len Ikitau yang cedera, berduet dengan Joseph Suaalii. Keputusan menarik lainnya adalah kepercayaan Kiss kepada flyhalf muda Declan Meredith untuk tetap menjadi pengatur serangan, dengan Ben Donaldson hanya duduk di bangku cadangan. Meredith akan berpasangan dengan scrumhalf Ryan Lonergan, sementara Tate McDermott disiapkan sebagai pemain pengganti.
Keputusan Kiss untuk mempertahankan Meredith terbilang berani, mengingat ia masih minim pengalaman di level internasional. Namun, pelatih asal Australia itu tampaknya ingin membangun ritme dan chemistry di lini belakang, sekaligus memberi kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang di panggung besar. Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa Kiss tidak segan melakukan regenerasi, sejalan dengan kebutuhan Australia untuk memperkuat kedalaman skuad.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menunjukkan arah baru Australia di bawah kepemimpinan Kiss. Meski Indonesia bukan kekuatan rugby Asia, perkembangan tim-tim seperti Jepang dan Australia kerap menjadi barometer bagi pertumbuhan olahraga ini di kawasan. Keberanian Kiss memainkan pemain muda juga bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan bakat lokal di Indonesia, yang tengah berupaya meningkatkan prestasi di level internasional.
Dengan skuad yang diumumkan, Kiss tampaknya ingin menyeimbangkan pengalaman dan energi muda. Pemain seperti Harry Wilson yang ditunjuk sebagai kapten, Fraser McReight, dan Rob Valetini di lini belakang memberikan stabilitas, sementara nama-nama baru di lini depan dan bangku cadangan menambah dimensi serangan. Pertanyaan besarnya, akankah strategi ini langsung membuahkan hasil di Osaka, atau justru menjadi batu loncatan untuk uji coba berikutnya?
Laga melawan Jepang akan menjadi ujian nyata bagi filosofi Kiss. Jika berhasil, ia bisa membangun momentum positif menjelang pertandingan-pertandingan berikutnya. Namun, jika gagal, kritik akan segera datang, mengingat ekspektasi publik Australia terhadap tim nasional selalu tinggi. Satu hal yang pasti: keputusan berani Kiss ini akan menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar rugby, termasuk di Indonesia yang mulai melirik olahraga ini.



