Film Pendek AI Berlatar Singapura Diserang Zombie: Provokasi atau Patriotisme?
Baca dalam 60 detik
- Sebuah film pendek berdurasi empat menit yang menggambarkan parade Hari Nasional Singapura diserang wabah zombie akan dirilis pada 9 Agustus, memicu perdebatan tentang batas kreativitas dan identitas nasional.
- Dibuat oleh studio Edenstone, film 'Bersama Majulah' menggunakan AI untuk mempercepat produksi visual, namun menegaskan bahwa narasi dan karakter sepenuhnya ditulis manusia, merespons kekhawatiran etika di industri hiburan global.
- Peluncuran ini terjadi di tengah meningkatnya regulasi konten AI di China dan Amerika Serikat, serta memunculkan pertanyaan tentang bagaimana Indonesia akan menyikapi fenomena serupa dalam industri kreatifnya.

Sebuah film pendek yang sepenuhnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan visualnya siap mengguncang perayaan Hari Nasional Singapura. Berlatar kota yang sangat mirip Singapura, film berjudul 'Bersama Majulah' ini menggambarkan parade nasional yang diserang oleh wabah spora mematikan yang mengubah manusia menjadi makhluk mirip zombie. Karya berdurasi empat menit ini dijadwalkan tayang pada 9 Agustus mendatang di situs sporefall.com, dan para pembuatnya sudah bersiap menghadapi reaksi publik yang beragam.
Film yang diproduksi oleh studio Edenstone ini merupakan spin-off dari seri animasi AI berjudul 'Spore Fall' yang rilis pada Maret lalu. Meski berlatar di negara fiktif bernama Lionara, penonton akan langsung mengenali ikon-ikon khas Singapura seperti cakrawala Marina Bay dan patung Merlion. Di balik layar, proyek ini digarap oleh kreator dan showrunner asal Singapura, Joel Boh, dengan produser eksekutif Chan Gin Kai, yang namanya melambung setelah memenangkan Golden Horse Award 2025 untuk film animasi 'Another World'. Musik tema resminya pun digubah oleh musisi lokal Dharma Sadasivan.
Keputusan untuk menampilkan gambaran distopia pada momen sakral seperti Hari Nasional tentu mengundang pertanyaan. Namun, Joel Boh dalam pernyataannya menegaskan bahwa ini justru bentuk keyakinan tertinggi pada identitas Singapura. "Kami percaya identitas Singapura tidak rapuhโia cukup kuat untuk dibayangkan ulang dan diciptakan kembali," ujarnya. Menurutnya, di tengah ancaman eksistensial, narasi utama Singapura adalah memilih persatuan daripada ketakutan. Pernyataan ini seolah ingin membalik logika: dengan menghadirkan skenario terburuk, justru nilai-nilai kebersamaan bisa diuji dan diperkuat.
Peluncuran film ini terjadi di tengah sorotan tajam terhadap penggunaan AI di industri hiburan global. Di China, mikro-drama AI berjudul 'The Peach Blossom Hairpin' baru saja ditarik dari peredaran setelah para model dan influencer menuduh kreatornya menggunakan fitur wajah dan pakaian mereka tanpa izin. Menanggapi maraknya kekhawatiran akan penipuan digital, regulator China telah mewajibkan semua konten buatan AI untuk diberi label eksplisit dan watermark digital mulai 1 September. Sementara itu, di Amerika Serikat, serikat pekerja seperti Writers Guild of America dan SAG-AFTRA telah memberlakukan aturan ketat untuk melindungi pekerjaan dan kemiripan fisik para kreator.
Edenstone berusaha menjawab kekhawatiran etis tersebut dengan memposisikan proyek ini sebagai produksi yang "ditulis manusia, direalisasikan AI". Mereka menegaskan bahwa narasi, skrip, karakter, alur emosional, dan pembangunan dunia sepenuhnya digarap oleh penulis manusia. AI hanya digunakan di bawah arahan kreatif manusia untuk mempercepat produksi aset visual. "Misi kami adalah membuktikan bahwa Singapura mampu bersaing di panggung global," kata Boh. "AI kini mempercepat perjalanan kamiโmengubah keterbatasan masa lalu menjadi batas kreatif berikutnya." Ia menambahkan, "Teknologi seharusnya melayani cerita, bukan sebaliknya."
Bagi Indonesia, fenomena ini membuka diskusi menarik tentang masa depan industri kreatif. Dengan ekosistem film dan animasi yang sedang berkembang, kehadiran AI bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan efisiensi dan peluang untuk bersaing di kancah global, seperti yang dicontohkan Edenstone. Namun, di sisi lain, regulasi dan perlindungan hak cipta di Indonesia masih perlu diperkuat untuk mencegah penyalahgunaan, terutama terkait penggunaan wajah dan karya seniman tanpa izin. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi model produksi serupa tanpa mengorbankan etika dan orisinalitas?
Ke depan, keberhasilan 'Bersama Majulah' akan menjadi ujian apakah audiens menerima narasi yang menggugah dengan sentuhan teknologi canggih, atau justru menolak karena dianggap tidak menghormati nilai-nilai tradisional. Apakah ini akan menjadi awal dari tren baru di Asia Tenggara, atau sekadar percobaan yang terlupakan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: perpaduan antara AI dan konten bernuansa nasionalis akan semakin sering kita jumpai, dan cara kita menyikapinya akan menentukan arah industri kreatif di kawasan ini.



