Pramono Anung Beberkan Strategi Jakarta Hadapi Perubahan Iklim: RTH, Resapan, hingga Pilah Sampah
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI Jakarta menggencarkan penambahan ruang terbuka hijau dan pembangunan daerah resapan sebagai langkah mitigasi perubahan iklim.
- Gubernur Pramono Anung menyoroti ancaman El Nino yang dapat memicu kemarau ekstrem dan mengganggu ketahanan pangan serta ketersediaan air bersih.
- Program pilah sampah dari rumah didorong sebagai gerakan bersama agar Jakarta tidak mewariskan masalah sampah ke generasi mendatang.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang kian nyata. Dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-499 Jakarta di Monas, Senin (22/6), ia memaparkan sejumlah langkah strategis yang tengah dan akan dijalankan, mulai dari penambahan ruang terbuka hijau (RTH) hingga pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga.
Menurut Pramono, perubahan iklim bukan lagi ancaman abstrak. Fenomena El Nino yang diprediksi memicu musim kemarau ekstrem menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu ketahanan pangan, pasokan air bersih, dan aktivitas ekonomi masyarakat. "Berpengaruh terhadap ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, dan aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan," ujarnya di hadapan ribuan peserta upacara.
Untuk mengantisipasi hal itu, Pemprov DKI mengandalkan pendekatan mitigasi dan adaptasi. Penambahan RTH, perluasan akses air bersih, pembangunan daerah resapan, pengendalian banjir, dan pengembangan urban farming menjadi pilar utama. Langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko banjir dan kekeringan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih layak huni dan berkelanjutan.
Pramono juga menyoroti persoalan sampah yang kerap menjadi momok bagi ibu kota. Ia menegaskan bahwa masalah sampah tidak boleh diwariskan kepada generasi mendatang. "Jelang 5 abad Jakarta, kita tidak boleh mewariskan persoalan sampah ke generasi sebelumnya. Karena itu gerakan pilah sampah terus didorong sebagai gerakan bersama yang dimulai dari rumah," ucapnya.
Gerakan pilah sampah dari rumah ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Saat ini, Jakarta masih menghasilkan sekitar 7.500 ton sampah per hari, dan sebagian besar belum terpilah secara optimal. Dengan melibatkan warga sejak dari sumbernya, Pemprov optimistis target pengurangan sampah sebesar 30% pada 2030 dapat tercapai.
Langkah-langkah ini mendapat apresiasi dari pengamat tata kota Universitas Indonesia, yang menilai bahwa integrasi antara mitigasi iklim dan pengelolaan sampah merupakan strategi yang tepat. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan partisipasi aktif masyarakat. "Tanpa kesadaran warga, program secanggih apa pun akan sia-sia," ujarnya.
Ke depan, Jakarta dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan kelestarian lingkungan. Dengan populasi yang terus bertambah dan lahan yang semakin terbatas, inovasi dalam tata ruang dan pengelolaan sumber daya menjadi kunci. Apakah langkah-langkah yang digagas Pramono mampu menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus menjaga Jakarta sebagai kota yang layak huni? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.



