IHSG Melesat 2,82% dalam Sepekan, Asing Borong Saham EMAS Rp3,47 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan mingguan sebesar 2,82% ke level 6.177,14 pada pekan 15-19 Juni 2026.
- Investor asing membukukan net buy terbesar pada saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) senilai Rp3,47 triliun, didorong transaksi di pasar negosiasi.
- Meskipun masih net sell secara keseluruhan, akumulasi asing di sejumlah saham menunjukkan optimisme terhadap prospek emiten tertentu.

Di tengah tekanan jual bersih investor asing yang masih mencapai Rp904,1 miliar sepanjang pekan lalu, Bursa Efek Indonesia justru mencatatkan penguatan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,82% dalam sepekan ke posisi 6.177,14, menjadikannya salah satu bursa dengan kinerja terbaik di Asia Tenggara.
Data perdagangan 15-19 Juni 2026 menunjukkan bahwa aksi beli asing terkonsentrasi pada sejumlah saham unggulan. Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi primadona dengan net buy mencapai Rp3,47 triliun. Angka fantastis ini dipicu oleh transaksi jumbo senilai Rp3,7 triliun di pasar negosiasi, menandakan adanya investor institusi besar yang mengakumulasi saham emiten tambang emas tersebut.
Di luar EMAS, saham perbankan tetap menjadi incaran utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net buy asing sebesar Rp915 miliar, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan Rp327,2 miliar. Sektor properti juga dilirik melalui PT Intiland Development Tbk (DILD) yang diborong Rp127,2 miliar, sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi Rp94,2 miliar.
Fenomena ini menarik karena terjadi di saat investor asing secara keseluruhan masih net seller. Artinya, dana asing melakukan rotasi portofolio: melepas saham tertentu untuk masuk ke saham lain yang dianggap lebih prospektif. Menurut analis pasar modal, langkah ini mencerminkan strategi selektif di tengah ketidakpastian global, dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis jangka panjang.
Bagi investor domestik, data ini memberikan sinyal bahwa saham-saham yang diakumulasi asing layak dicermati. EMAS, misalnya, mendapat berkah dari kenaikan harga emas global dan ekspansi produksi. Sementara BBCA dan BMRI diuntungkan oleh prospek suku bunga yang stabil dan pertumbuhan kredit. Namun, perlu diingat bahwa transaksi di pasar negosiasi bisa bersifat sementara dan tidak selalu mencerminkan minat jangka panjang.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global, terutama dari Bank Sentral AS (The Fed), serta data ekonomi domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan. Jika asing terus melakukan akumulasi di sektor-sektor kunci, bukan tidak mungkin IHSG mampu menembus level psikologis 6.300 dalam waktu dekat. Pertanyaannya, akankah rotasi asing ini berlanjut atau hanya sekadar momentum sesaat?



