Polisi Australia Bongkar Bunker Bawah Tanah, Sita 2,7 Ton Kokain Terbesar Sepanjang Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Polisi Australia menyita 2,7 ton kokain dari bunker bawah tanah di Sydney, rekor penggerebekan narkoba terbesar di negara itu.
- Dua pria ditangkap dan terancam hukuman seumur hidup; jaringan kriminal internasional diduga berada di balik penyelundupan.
- Kasus ini membuka mata Indonesia akan modus penyelundupan narkoba canggih yang bisa meniru pola serupa di kawasan.

Polisi Australia berhasil membongkar jaringan penyelundupan narkoba internasional setelah menyita 2,7 ton kokain dari bunker bawah tanah di Sydney Barat—penggerebekan terbesar dalam sejarah negara tersebut. Narkoba senilai A$816 juta (sekitar Rp8,2 triliun) itu ditemukan pada Jumat lalu di tiga kontainer yang dilengkapi lantai palsu, tersembunyi di properti Londonderry.
Dua pria berusia 21 dan 25 tahun yang mencoba melarikan diri saat penggerebekan langsung ditangkap dan didakwa memiliki narkoba impor dalam jumlah komersial. Jika terbukti bersalah, mereka menghadapi hukuman penjara seumur hidup. Menurut polisi, kokain tersebut diselundupkan melalui kota kecil Midge Point di Queensland Utara atas perintah kelompok kriminal terorganisir.
Penggerebekan ini merupakan bagian dari Operasi Minjiang yang diluncurkan pada Mei setelah 40 kg kokain ditemukan mengapung di perairan dekat dermaga Midge Point. Enam orang lainnya di Queensland dan New South Wales juga telah ditangkap dalam penyelidikan terkait. Sebuah kapal induk yang diduga digunakan dalam operasi penyelundupan juga telah diamankan di Kepulauan Solomon.
Komandan AFP Stephen Jay mengatakan bahwa pengungkapan ini menunjukkan betapa terorganisir dan nekatnya jaringan kriminal tersebut. "Mereka rela melakukan apa pun demi keuntungan," ujarnya. Investigasi masih berlangsung untuk mengidentifikasi sindikat di balik penyelundupan ini, dengan kerja sama internasional yang melibatkan mitra penegak hukum di berbagai negara.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan modus operandi penyelundupan narkoba yang semakin canggih. Bunker bawah tanah dan kontainer berlantai palsu merupakan metode yang mungkin juga digunakan oleh jaringan narkoba di Asia Tenggara. Mengingat Australia dan Indonesia berada di jalur perdagangan narkoba yang sama, pengalaman Australia dalam membongkar jaringan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi aparat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan kerja sama lintas batas.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana jaringan ini terkait dengan sindikat di kawasan Asia-Pasifik, dan apakah modus serupa sudah merambah Indonesia? Kerja sama intelijen antara kedua negara menjadi krusial untuk mencegah peredaran narkoba yang semakin masif.



