Piala Dunia 2026 di Seattle: Laga Mesir vs Iran Jadi Panggung Pride, Ketegangan Nilai Tak Terhindarkan
Baca dalam 60 detik
- Seattle tetap menggelar 'Pride Match' pada laga Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026, meskipun kedua negara mengkriminalisasi homoseksualitas dan menolak acara tersebut.
- Penyelenggara lokal menegaskan Pride Match adalah inisiatif kota yang terpisah dari FIFA, dan telah berlangsung selama puluhan tahun jauh sebelum Piala Dunia.
- Komunitas LGBTQ Seattle melihat momen ini sebagai peluang untuk menyuarakan solidaritas dan mendorong perubahan sosial, meskipun ada kekhawatiran akan reaksi dari negara konservatif.

Pertandingan babak penyisihan Grup B Piala Dunia 2026 antara Mesir dan Iran di Seattle pada Jumat (26/6) mendatang akan menjadi lebih dari sekadar laga sepak bola. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas LGBTQ+ paling terbuka di Amerika Serikat itu tetap ngotot menggelar "Pride Match"—sebuah perayaan keberagaman seksual—meskipun kedua tim peserta berasal dari negara yang secara hukum melarang homoseksualitas.
Keputusan Seattle ini memicu ketegangan diplomatik dan kultural. Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) telah mendesak FIFA untuk membatalkan segala aktivitas bertema Pride, dengan alasan bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama mayoritas Muslim. Iran, yang menerapkan hukuman mati bagi hubungan sesama jenis, juga mengajukan keberatan resmi. Namun, panitia lokal Seattle bergeming.
"Piala Dunia akan datang dan pergi dalam tiga minggu. Perayaan Pride sudah berlangsung di akhir pekan ini selama lebih dari 50 tahun," ujar Hedda McLendon, anggota komite penyelenggara lokal Seattle, kepada Reuters. "Perayaan itu akan tetap berlangsung akhir pekan ini, dan akan terus berlangsung lama setelah Piala Dunia usai."
Reaksi di kalangan komunitas LGBTQ Seattle sendiri beragam. Jon Cairns, manajer klub Kremwerk, mengakui ada perasaan campur aduuk. Namun, ia justru melihat peluang besar. "Olahraga internasional adalah salah satu agen perubahan sosial terbesar sepanjang sejarah, termasuk di AS," katanya. Ia mencontohkan momen Jesse Owens di Olimpiade 1936 dan protes Tommie Smith serta John Carlos di Olimpiade 1968 sebagai bukti bahwa hanya ajang olahraga global yang bisa menjangkau audiens seluas itu. "Mereka tidak akan mematikan siaran televisi di Iran atau Mesir hanya untuk menghalangi bendera Pride di tribun," tambah Cairns.
Bagi Ryan Webster, seorang manajer gaya hidup berusia 40 tahun yang ditemui di Kremwerk, Pride Match adalah kesempatan untuk menunjukkan solidaritas kepada komunitas LGBTQ di negara-negara yang masih melarang orientasi seksual mereka. "Saya memilih untuk percaya bahwa ini adalah momen kita untuk memberi kesempatan kepada anggota komunitas dari negara-negara itu untuk merayakan diri mereka secara utuh, yang mungkin tidak bisa mereka lakukan di tempat lain," ujarnya.
FIFA sendiri menegaskan bahwa Pride Match adalah inisiatif tuan rumah dan sepenuhnya di luar tanggung jawab badan sepak bola dunia tersebut. Pernyataan ini mengingatkan pada kontroversi serupa di Piala Dunia 2022 Qatar, di mana FIFA mengancam akan memberikan kartu kuning kepada kapten tim yang mengenakan ban "OneLove" sebagai protes terhadap hukum anti-LGBTQ Qatar. Sejumlah tim seperti Inggris dan Belanda akhirnya membatalkan rencana tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi negara yang juga memiliki nilai-nilai konservatif kuat dan belum melegalkan hubungan sesama jenis. Ketegangan antara tuan rumah yang inklusif dan tim dari negara konservatif bisa menjadi preseden bagi penyelenggaraan event olahraga global di masa depan. Pertanyaan besarnya: akankah momen seperti ini benar-benar mengubah pandangan, atau justru memperlebar jurang perbedaan?



