LIV Golf Dapat Investor Baru Anonim, Nasib Liga 2027 Aman?
Baca dalam 60 detik
- LIV Golf mengumumkan kesepakatan dengan investor utama baru untuk memastikan kelangsungan kompetisi hingga 2027 dan seterusnya.
- Keputusan ini muncul setelah Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) memutuskan menghentikan pendanaan pada akhir musim 2026.
- Para pemain LIV akan menjadi pemegang saham mayoritas, sebuah langkah yang disebut sebagai yang pertama dalam olahraga global.

LIV Golf, liga golf profesional yang kontroversial, mengumumkan telah mendapatkan investor utama baru yang namanya dirahasiakan untuk menjamin kelangsungan kompetisi pada 2027. Langkah ini diambil setelah pendanaan dari Arab Saudi melalui Public Investment Fund (PIF) dipastikan berhenti pada akhir musim ini, mengancam eksistensi liga yang baru berjalan empat tahun tersebut.
Kabar ini disampaikan langsung oleh CEO LIV Golf, Scott O'Neil, yang menyatakan bahwa perjanjian dengan investor baru telah ditandatangani dan disetujui dewan. Transaksi dijadwalkan rampung pada September mendatang. Meski nilai investasi tidak diungkap, PIF tercatat telah mengucurkan dana lebih dari US$5 miliar (sekitar Rp80 triliun) sejak liga diluncurkan pada 2022.
Keputusan PIF untuk mundur pada April lalu sempat membuat masa depan LIV Golf dipertanyakan. Sejumlah turnamen bahkan terpaksa ditunda, seperti ajang di New Orleans yang sedianya digelar Juni. Kini, dengan adanya investor baru, LIV Golf berupaya meyakinkan publik bahwa kompetisi akan berlanjut, meski dengan format yang lebih ramping.
Mulai musim depan, LIV Golf akan mengurangi jumlah turnamen dari 14 menjadi hanya 10 seri, dengan lima di antaranya digelar di Amerika Serikat dan lima lainnya di berbagai negara. Penyesuaian ini dianggap sebagai langkah realistis untuk menjaga keberlanjutan liga di tengah ketidakpastian finansial.
Salah satu poin menarik dari kesepakatan baru ini adalah rencana menjadikan para pemain sebagai pemegang saham mayoritas. O'Neil menyebut ini sebagai yang pertama dalam sejarah liga olahraga global. Langkah ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pegolf yang selama ini bergabung dengan LIV, seperti Jon Rahm, Bryson DeChambeau, dan Dustin Johnson.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan dengan PGA Tour semakin ketat, terutama setelah PGA Tour dan DP World Tour menjalin aliansi dengan Asian Tour pada Juli lalu. Beberapa pemain bintang seperti Brooks Koepka dan Patrick Reed bahkan memilih kembali ke PGA Tour. Meski demikian, O'Neil mengklaim ada lebih dari belasan pihak yang berminat menjadi investor minoritas, menandakan kepercayaan pasar terhadap masa depan LIV.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meski belum ada rencana LIV Golf menggelar turnamen di Tanah Air, potensi investasi dan pariwisata olahraga bisa menjadi peluang. Jika LIV Golf terus eksis dan berkembang, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi salah satu tuan rumah di masa depan, mengingat semakin populernya golf di kalangan profesional muda Tanah Air.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model bisnis LIV Golf yang baruโdengan pemain sebagai pemilikโakan mampu bersaing dengan PGA Tour yang sudah mapan. Akankah ini menjadi awal dari era baru dalam olahraga golf, atau justru menjadi babak akhir dari eksperimen yang berani? Semua akan terjawab dalam beberapa musim mendatang.



