Gus Yahya Siap Kembali Bertarung di Munas NU 2026: Agenda Belum Tuntas
Baca dalam 60 detik
- KH Yahya Cholil Staquf menyatakan kesiapannya maju kembali sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Kediri.
- Ia mengklaim masih memiliki agenda strategis organisasi yang belum rampung dan meminta kesempatan untuk menyelesaikannya di periode kedua.
- Munas NU 2026 berlangsung 20-22 Juni di Kediri, dengan rencana penutupan di Bangkalan, Madura, pada 23 Juni jika Presiden Prabowo hadir.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya, secara resmi mengumumkan kesiapannya untuk kembali mencalonkan diri sebagai pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela kedatangannya di lokasi Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026, yang digelar di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6).
โSaya siap, Insyaallah saya siap,โ ujar Gus Yahya singkat saat ditemui awak media. Namun, di balik pernyataan ringkas itu, ia menegaskan bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang mendadak. Sejak awal masa kepemimpinannya, Gus Yahya mengaku telah menyampaikan niatnya untuk menyelesaikan sejumlah agenda organisasi yang dinilainya masih belum tuntas.
โKarena saya telah sejak awal menyampaikan bahwa saya memang melamar untuk mengerjakan sejumlah agenda. Agenda-agenda itu yang penting,โ jelasnya. Meski enggan merinci secara detail, ia meminta agar diberikan kesempatan untuk merampungkan program-program tersebut dalam periode kepemimpinan berikutnya. โSekarang untuk menyelesaikan agenda-agenda itu saya meminta untuk diberikan kesempatan,โ tambahnya.
Langkah Gus Yahya ini tentu menarik perhatian, mengingat NU merupakan organisasi dengan pengaruh besar di Indonesia, baik dari segi keagamaan maupun politik. Keputusan untuk kembali maju menunjukkan bahwa ia masih memiliki dukungan yang cukup kuat di internal, meskipun tidak menutup kemungkinan munculnya pesaing dari kubu lain. Dalam konteks Indonesia, dinamika pemilihan ketua umum NU sering kali menjadi barometer politik Islam nasional, karena kiai dan pengurus NU memiliki jaringan hingga ke akar rumput.
Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 sendiri menjadi forum tertinggi pengambilan keputusan organisasi. Selain pemilihan ketua umum, forum ini juga membahas berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan. Rencananya, acara akan ditutup di STAI Pesantren Syaichona Cholil Bangkalan, Madura, pada 23 Juni, dengan agenda khusus jika Presiden Prabowo Subianto hadir. Kehadiran kepala negara dalam penutupan Munas NU menjadi tradisi yang mencerminkan hubungan erat antara pemerintah dan ormas Islam terbesar ini.
Ke depan, pertarungan di Munas NU 2026 diprediksi akan berlangsung dinamis. Apakah Gus Yahya akan kembali memimpin tanpa perlawanan berarti, atau justru muncul figur baru yang menantang? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa hari ke depan, seiring berlangsungnya musyawarah di Kediri dan Bangkalan.



