Hanya Satu Wanita di Piala Dunia 2026: Dokter Curacao yang Menembus Dominasi Pria
Baca dalam 60 detik
- Dr. Suzanne Huurman menjadi satu-satunya kepala staf medis perempuan dari 48 tim di Piala Dunia 2026, mewakili Curacao yang merupakan tim terkecil dalam sejarah turnamen.
- Latar belakangnya sebagai dokter tim Real Madrid dan PSV, serta pengalamannya di sepak bola pria, menunjukkan bahwa kompetensi dapat mengatasi stereotip gender.
- FIFA mulai mewajibkan setidaknya satu staf medis perempuan di turnamen wanita, namun di level pria perubahan masih lambat karena budaya kerja 24/7.

Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 tim, hanya satu perempuan yang duduk sebagai kepala staf medis: Dr. Suzanne Huurman, dokter tim nasional Curacao. Ia menjadi perempuan ketiga dalam sejarah 96 tahun turnamen yang menduduki posisi tersebut, sekaligus membawa pulau kecil berpenduduk 158.000 jiwa itu ke panggung terbesar sepak bola dunia.
Bagi Huurman, statusnya sebagai satu-satunya perempuan di antara 47 pria bukanlah hal yang mengejutkan. "Saya sudah terbiasa menjadi satu-satunya atau salah satu dari sedikit perempuan di ruangan," ujarnya kepada BBC Sport. Namun, ia berharap dalam waktu dekat akan ada lebih banyak perempuan yang mengikuti jejaknya. "Banyak perempuan di luar sana yang mampu, mereka hanya perlu kesempatan."
Curacao, yang merupakan bagian dari Kerajaan Belanda, lolos ke Piala Dunia 2026 tanpa terkalahkan: tujuh kemenangan dan tiga hasil imbang. Tim berjuluk "Gelombang Biru" ini menjadi tim terkecil dalam sejarah turnamen, baik dari segi populasi maupun luas wilayah. Meski baru saja menelan kekalahan 7-1 dari Jerman pada laga perdana Grup E, Huurman menegaskan skuad tetap optimis menghadapi dua pertandingan tersisa melawan Ekuador dan Pantai Gading.
Lahir di Brasil dan besar di Belanda, Huurman menempuh pendidikan kedokteran di Radboud University pada 2008, saat 70-75% mahasiswanya adalah perempuan. Namun, ketika ia mengambil spesialisasi kedokteran olahraga pada 2014, komposisi berbalik: hanya 20-30% perempuan. "Di situlah saya melihat perbedaan," kenangnya. Ia kemudian bekerja dengan Go Ahead Eagles, PSV, dan Real Madrid, sebelum akhirnya bergabung dengan Curacao pada 2026.
Menurut Huurman, hambatan terbesar bagi dokter perempuan bukanlah kemampuan, melainkan budaya "selalu siap" yang menuntut kesediaan 24/7. "Jika Anda memiliki keluarga atau sedang hamil, Anda akan keluar dari pekerjaan untuk beberapa waktu—dan Anda tidak bisa mengaturnya dengan sempurna mengikuti musim sepak bola profesional," jelasnya. Ia mencontohkan Swedia yang menerapkan sistem rotasi dokter setiap minggu, sebuah model yang lebih ramah bagi perempuan namun belum lazim di olahraga elit.
FIFA sendiri mulai bergerak dengan mewajibkan setidaknya satu staf medis perempuan di turnamen wanita. Pada laga Curacao vs Jerman, untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia pria, seluruh tim medis di lapangan adalah perempuan: Dr. Emma Lunan (dokter FIFA), Dr. Silja Schwarz (Jerman), Dr. Carrie Bakunas (dokter gawat darurat), dan Dr. Kerry Peek (pengawas cedera). "Semoga ini menjadi batu loncatan untuk menunjukkan bahwa keahlian dalam kedokteran olahraga tidak bergantung pada jenis kelamin," kata Dr. Lunan.
Bagi Indonesia, kisah Huurman relevan mengingat sepak bola nasional masih didominasi pria di semua lini, termasuk medis. Hingga saat ini, belum ada dokter perempuan yang menjadi kepala staf medis tim nasional pria Indonesia. Padahal, seperti diungkapkan Huurman, kompetensi adalah kunci. "Saya sudah mendengar jutaan kali 'kamu tidak bisa karena kamu perempuan'. Tapi jika Anda membuktikan kualitas, Anda bisa melakukannya," tegasnya.
Pertanyaan besarnya: mampukah sepak bola Indonesia—dan global—menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi tenaga medis perempuan, ataukah budaya 24/7 akan terus menjadi tembok yang sulit ditembus?



