Infantino Bantah Cuan dari Timeout Hidrasi: Murni Urusan Olahraga
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan jeda minum di Piala Dunia 2026 tidak mendatangkan pendapatan tambahan bagi federasi.
- Kebijakan tiga menit istirahat per babak ini menuai pro-kontra dari pemain, pelatih, dan suporter yang mencemooh di stadion.
- Meski diklaim demi kesetaraan kondisi, jeda ini justru membuka celah iklan senilai lebih dari 250 juta dolar AS di Amerika Serikat.

Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa jeda hidrasi yang diterapkan di setiap pertandingan Piala Dunia 2026 murni untuk kepentingan olahraga, bukan untuk mendulang pendapatan tambahan bagi federasi. Pernyataan ini disampaikan untuk meredam spekulasi bahwa kebijakan tersebut dimanfaatkan sebagai celah komersial baru.
Sejak turnamen bergulir di Amerika Utara, wasit secara rutin menghentikan pertandingan selama tiga menit di pertengahan setiap babak. Langkah ini diambil untuk melindungi pemain dari suhu ekstrem yang kerap melanda stadion. Namun, respons di lapangan tidak sepenuhnya positif. Sebagian suporter bahkan melontarkan cemoohan setiap kali jeda diumumkan, sementara sejumlah pelatih dan pemain mengaku kebijakan ini mengubah ritme permainan.
Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, termasuk yang paling vokal. Ia menilai jeda tersebut lebih banyak mengubah karakter pertandingan dari yang ia bayangkan. Di sisi lain, Infantino berdalih bahwa jeda ini juga berfungsi sebagai momen istirahat krusial mengingat jadwal padatโtim bisa memainkan hingga delapan laga dalam 39 hari.
Yang menarik, meski Infantino bersikeras tidak ada motif finansial, data dari pakar industri menunjukkan potensi pendapatan iklan yang sangat besar. Fox Sports, pemegang hak siar di AS, dilaporkan mengenakan tarif tinggi untuk slot komersial selama jeda tersebut. Dengan rata-rata 30 detik iklan bernilai hingga 300 ribu dolar AS, total pendapatan dari jeda hidrasi di AS saja diperkirakan melampaui 250 juta dolar AS. Angka ini tentu sulit diabaikan, meski Infantino mengklaim semua kontrak komersial telah ditandatangani jauh sebelum turnamen.
Bagi Indonesia, kebijakan ini patut dicermati. Meskipun tidak ada tim nasional yang berlaga, Piala Dunia tetap menjadi tontonan utama bagi jutaan penggemar sepak bola Tanah Air. Jeda iklan yang muncul selama jeda hidrasi berpotensi mengubah pengalaman menonton, terutama jika stasiun televisi lokal mengikuti jejak mitra global mereka. Di Inggris, BBC memilih tidak menayangkan iklan selama jeda tersebut, namun belum ada kepastian serupa dari penyiar Indonesia.
Infantino menambahkan bahwa alasan utama penerapan jeda di setiap pertandingan adalah untuk menciptakan kondisi yang setara bagi semua peserta. โSulit diterima jika seorang pelatih bisa memengaruhi pertandingan hanya karena cuaca lebih panas di satu laga, sementara di laga lain tidak,โ ujarnya. Dengan jeda yang seragam, FIFA ingin memastikan setiap tim mendapat kesempatan yang sama untuk beristirahat dan menyesuaikan strategi.
Pertanyaan yang tersisa: apakah kebijaan ini akan bertahan setelah Piala Dunia 2026 berakhir? Atau justru menjadi preseden bagi turnamen FIFA lainnya? Yang jelas, perdebatan antara motif olahraga dan komersial tampaknya belum akan mereda.



