Swedia Balik Arah: Gempuran Layar di Sekolah Diganti Buku Cetak
Baca dalam 60 detik
- Swedia mengalokasikan dana hingga 755 juta kronor per tahun untuk buku cetak di sekolah, membalikkan tren digitalisasi yang digencarkan sejak 2010.
- Studi OECD dan tinjauan ahli saraf menunjukkan penurunan kemampuan membaca dan matematika siswa, yang dikaitkan dengan penggunaan gawai berlebihan.
- Langkah Swedia menjadi kontras dengan Jepang yang justru melegalkan buku teks digital, memicu diskusi tentang keseimbangan metode belajar di era digital.

Swedia, yang selama ini dipandang sebagai pionir dalam mengintegrasikan laptop dan tablet ke dalam ruang kelas, kini justru mengerem laju digitalisasi dengan mengucurkan dana besar untuk buku cetak. Langkah ini diambil setelah kekhawatiran akan dampak negatif layar terhadap konsentrasi dan kemampuan belajar anak-anak semakin menguat.
Di Bandhagen School, Stockholm, pemandangan siswa kelas empat yang membaca nyaring dari buku cetak kini kembali lazim. Seorang remaja bernama Emilia mengaku lebih mudah fokus saat membaca buku fisik ketimbang gawai. โSaat membaca di perangkat digital, saya sering pusing,โ ujarnya. Pengakuan semacam ini menjadi salah satu alasan Swedia mengubah haluan kebijakan pendidikannya.
Transformasi digital di sekolah-sekolah Swedia dimulai sekitar tahun 2010, namun hasil survei OECD Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan penurunan tajam nilai membaca dan matematika antara 2018 dan 2022. Pemerintah kemudian membentuk tim peninjau yang terdiri dari ahli saraf dan dokter anak. Kesimpulan mereka tegas: ketergantungan berlebihan pada perangkat digital dapat mengganggu perhatian dan konsentrasi, sementara bahan cetak lebih efektif untuk pembelajaran.
Menanggapi temuan tersebut, pada 2023 Swedia secara resmi mendorong pembelajaran berbasis kertas bagi siswa usia dini. Pemerintah mengalokasikan dana sebesar 658โ755 juta kronor (sekitar 70โ80 juta dolar AS) per tahun hingga 2025 untuk menyediakan buku teks dan materi cetak di prasekolah dan sekolah wajib. โKeputusan ini didasarkan pada riset yang menunjukkan bahwa anak kecil, yang otaknya masih berkembang, sangat rentan terhadap efek perangkat digital,โ kata Joar Forssell, ketua komite pendidikan parlemen Swedia.
Langkah Swedia ini kontras dengan Jepang yang baru saja merevisi undang-undang untuk mengesahkan buku teks digital sebagai materi ajar formal di sekolah. Di Indonesia sendiri, wacana digitalisasi pendidikan juga terus bergulir, meski kesenjangan akses dan infrastruktur masih menjadi tantangan. Keputusan Swedia bisa menjadi pelajaran berharga: teknologi bukanlah solusi instan, dan keseimbangan antara metode digital dan konvensional perlu dipertimbangkan secara matang.
Meski demikian, tidak semua pihak sepakat bahwa digitalisasi semata yang menjadi biang keladi. Sejumlah peneliti dan pendidik menunjuk faktor lain, seperti perubahan demografi dan tantangan siswa dari keluarga imigran. Swedia menerima gelombang besar imigran dan pengungsi dari Suriah, Afghanistan, dan negara-negara Afrika sejak 2015. Principal Bandhagen, Pia Nystrom, menekankan bahwa fokus seharusnya bukan menyalahkan teknologi, melainkan mencari keseimbangan yang tepat antara metode digital dan tradisional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah negara-negara lain mengikuti jejak Swedia, atau justru semakin mempercepat digitalisasi? Bagi Indonesia, yang tengah gencar mendorong platform belajar daring, pengalaman Swedia menjadi pengingat bahwa efektivitas belajar tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan alat, melainkan juga oleh kesiapan kognitif dan lingkungan sosial siswa.



