Gelombang PHK Industri Gim Global: 11 Bit Studios Korbankan 20 Karyawan
Baca dalam 60 detik
- 11 Bit Studios, pengembang Frostpunk, memberhentikan 20 karyawan dalam restrukturisasi internal.
- Langkah ini menambah daftar panjang lebih dari 70 studio gim yang melakukan PHK sepanjang tahun ini.
- Proyek utama seperti Frostpunk 1886 dipastikan tidak terdampak, namun industri tetap dilanda ketidakpastian.

Pengembang gim asal Polandia, 11 Bit Studios, yang dikenal lewat seri Frostpunk, baru saja memutuskan hubungan kerja dengan sekitar 20 karyawannya. Langkah ini menjadi bagian dari penyesuaian organisasi menyusul jadwal rilis produk yang dinilai tidak padat dalam waktu dekat.
Keputusan tersebut dikonfirmasi oleh Insider Gaming pada akhir pekan lalu. Meski jumlahnya relatif kecil, pemutusan hubungan kerja (PHK) ini menempatkan 11 Bit Studios sebagai salah satu dari sekitar 70 studio pengembang gim di seluruh dunia yang telah melakukan efisiensi tenaga kerja sepanjang tahun 2024.
Yang menarik, PHK ini terjadi di tengah kesuksesan komersial Frostpunk 2 yang dirilis pada September 2024. Namun, menurut analis industri, tekanan biaya produksi dan perubahan strategi portofolio seringkali memaksa studio untuk merampingkan tim meski pendapatan masih positif. “Ini bukan soal bangkrut, melainkan soal efisiensi jangka panjang,” ujar seorang pengamat pasar gim yang enggan disebut namanya.
Fenomena PHK massal di sektor gim bukan hal baru. Tahun lalu, lebih dari 10.000 pekerja gim kehilangan pekerjaan di berbagai perusahaan, mulai dari raksasa seperti Electronic Arts hingga studio independen. Tren ini dipicu oleh normalisasi pasca-pandemi, di mana permintaan akan gim baru melambat setelah lonjakan selama lockdown.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan kerentanan industri kreatif digital. Meskipun ekosistem gim dalam negeri masih bertumpu pada studio kecil dan menengah, gelombang PHK global dapat memengaruhi investasi asing dan kemitraan pengembangan. “Studio lokal yang bekerja sama dengan penerbit internasional harus lebih hati-hati dalam mengelola kontrak dan aliran kas,” kata seorang pengembang gim Indonesia yang pernah terlibat proyek outsourcing.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah industri gim akan kembali stabil atau justru memasuki siklus kontraksi yang lebih panjang. Dengan banyaknya studio yang masih melakukan penyesuaian, para pekerja gim di seluruh dunia—termasuk Indonesia—perlu terus memantau pergerakan pasar dan memperkuat keterampilan agar tetap relevan.



