Mantan Bos Eidos Montreal: Industri Gim Kini Dikuasai Lembar Excel, Bukan Gairah
Baca dalam 60 detik
- Stéphane D’Astous, mantan direktur Eidos Montreal, menilai industri gim global dikuasai segelintir pemodal besar seperti Tencent dan NetEase.
- Pengambil keputusan saat ini lebih mengandalkan data dan target finansial ketimbang visi kreatif, menyebabkan siklus pengembangan yang mahal dan lambat.
- Kritik ini relevan bagi Indonesia yang tengah giat mengembangkan ekosistem gim lokal, mengingat dominasi investor asing bisa mengikis inovasi.

Industri gim video global tengah mengalami transformasi yang tidak sepenuhnya sehat. Stéphane D’Astous, mantan direktur Eidos Montreal yang malang melintang di Ubisoft, Quantic Dream, dan Krafton, menyebut para penguasa modal saat ini lebih fasih membaca angka di lembar Excel ketimbang memahami denyut kreativitas.
Dalam wawancara dengan Thunderpick, D’Astous mengkritik konsolidasi besar-besaran yang terjadi di industri. Ia menyoroti masuknya raksasa seperti Tencent, NetEase, dan dana investasi Arab Saudi yang mengubah peta persaingan. “Orang yang memegang uang dan kekuasaan mengambil keputusan semakin sedikit, tapi kantong mereka semakin dalam,” ujarnya. Menurutnya, perubahan ini tidak sepenuhnya membawa angin segar.
D’Astous membandingkan era keemasan pengembangan gim pada 2005–2006, ketika tim kecil mampu melahirkan gim ambisius berkat proses kreatif yang logis dan disiplin. Kini, kata dia, para eksekutif kehilangan kemampuan untuk mengatakan “tidak” pada perluasan lingkup proyek yang tidak terkendali. Akibatnya, waktu dan biaya pengembangan membengkak tanpa jaminan kualitas.
Kritik D’Astous menggemakan kekhawatiran banyak pengembang independen yang merasa terpinggirkan. Di tengah gempuran gim-gim bermodal besar, inovasi seringkali dikorbankan demi keamanan finansial. Padahal, sejarah membuktikan bahwa gim-gim ikonik lahir dari tim kecil yang berani mengambil risiko.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Ekosistem gim lokal yang mulai tumbuh—dengan studio seperti Agate, Toge Productions, dan Mojiken—rentan terhadap tekanan investor asing yang menuntut keuntungan cepat. Regulator dan pelaku industri perlu menjaga keseimbangan antara suntikan modal dan kemandirian kreatif agar gim buatan anak bangsa tidak kehilangan jati diri.
D’Astous menekankan pentingnya “stage-gating” yang ketat dalam pengembangan gim. “Seseorang harus berani mengatakan tidak jika sesuatu tidak masuk akal,” tegasnya. Tanpa disiplin itu, industri berisiko terus menggali lubang yang semakin dalam. Pertanyaannya, mampukah para pemangku kepentingan di Indonesia belajar dari pengalaman pahit industri global sebelum terlambat?



