Kafe Bernuansa HDB Singapura Tutup: Nostalgia Tak Cukup untuk Bisnis
Baca dalam 60 detik
- Lou Shang, kafe bertema perumahan rakyat Singapura, akan tutup pada 14 Juli 2024 setelah tiga tahun beroperasi.
- Pendiri Sebastian Ang menyebut lokasi di lantai dua tanpa lift dan konsep yang kurang mendorong kunjungan ulang sebagai penyebab utama.
- Penutupan ini menjadi pelajaran bagi pelaku usaha F&B di Asia Tenggara bahwa nostalgia saja tidak menjamin keberlanjutan bisnis.

Kafe dan bar bertema nostalgia perumahan rakyat Singapura, Lou Shang, akan menutup pintunya pada 14 Juli 2024 setelah hampir tiga tahun beroperasi. Keputusan ini diumumkan langsung oleh pendiri Sebastian Ang melalui video di media sosial, mengakui bahwa mempertahankan bisnis dengan konsep unik tersebut bukanlah perkara mudah.
Ang, yang juga memiliki konsep F&B lain seperti Mama Diam dan Synthesis, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah lokasi kafe yang berada di lantai dua sebuah shophouse di Prinsep Street tanpa akses lift. Selain itu, ia juga menyadari bahwa menu dan konsep Lou Shang tidak dirancang untuk mendorong kunjungan berulang. "Setiap kali melihat pelanggan datang untuk pertama kali, mereka terlihat terkejut dan senang, tetapi kekaguman tidak membangun kebiasaan," ujarnya.
Lou Shang, yang berarti "di atas" dalam bahasa Mandarin, dibuka pada Agustus 2021 sebagai penghormatan terhadap kehidupan sehari-hari warga Singapura, terinspirasi dari estetika HDB (Housing Development Board) lama. Ruangannya dipenuhi elemen ikonik seperti meja berubin biru, pagar logam retro khas pintu masuk flat, dan papan tanda nostalgia yang mengingatkan pada toko kelontong lingkungan. Kafe ini berada tepat di atas Mama Diam, sebuah restoran dan bar speakeasy yang namanya diambil dari istilah Singlish untuk toko kelontong.
Meski harus tutup, Ang tidak menganggap Lou Shang sebagai kegagalan. Dalam refleksinya, ia berterima kasih kepada pelanggan dan staf, serta mengenang berbagai perayaan, percakapan, dan kenangan yang tercipta di ruang tersebut. "Kami mungkin salah dalam hal angka dan bisnis, tetapi semua ini, saya pikir semuanya nyata," katanya. Lou Shang akan tetap beroperasi setiap hari mulai pukul 11.30 hingga 21.30 hingga hari terakhirnya.
Bagi pelaku industri F&B di Indonesia, kasus Lou Shang menjadi pengingat bahwa konsep nostalgia memang menarik perhatian awal, namun tanpa strategi retensi pelanggan yang kuat, bisnis sulit bertahan. Di tengah maraknya kafe bertema retro di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, penting untuk tidak hanya mengandalkan daya tarik visual, tetapi juga membangun pengalaman yang membuat pelanggan ingin kembali. Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah: apakah pasar Indonesia akan mengalami nasib serupa, atau justru bisa belajar dari pengalaman Lou Shang untuk menciptakan model bisnis yang lebih berkelanjutan?



